Sponsor Links

Friday, August 13, 2010

Amanah Berbuat Adil

Amanah Berbuat Adil



“ Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak dengannya dan apabila kalian menghukumi diantara manusia, maka hukumilah dengan adil. Sesungguhnya Allah yang paling baik menasehati kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (An-Nisa: 58).


Saat ini banyak orang putus asa dengan kehidupan ini. Pasalnya banyak orang yang diberi amanah menjadi pemimpin, tetapi tidak mengemban amanah itu secara baik. Amanah itu justru dipergunakan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga atau golongannya. Ironisnya sebelum diberi amanah,berupa jabatan, mereka berjanji bahkan bersumpah dengan nama Illahi untuk mendapat simpati.
Kejadian yang terjadi di gedung DPR/MPR hanya bagian kecil dari bukti keputusasaan rakyat kecil untuk mengingatkan para pemimpin yang tidak adil. Kata-kata tidak didengar lagi. Demo sudah bukan barang baru, bahkan sekedar menjadi intertainment semata. Walhasil, wajarlah jika lahir tindakan-tindakan “destruktif” seperti yang dilakukan pak Pong dan kawan lainnya. Jika kritik sudah tidak mempan lagi apalagi hanya sekedar saran dan kritikan.
Jika para pemimpin sudah tidak lagi mengindahkan nasehat para ulama’ di negeri ini, maka siapa lagi yang dapat diandalkkan oleh rakyat kecil. Hasilnya adalah ketidak percayaan, sehingga setiap orang akan dengan caranya sendiri mengekspresikan kekecewaan dan kekesalan terhadap para pemimpin mereka. Hal itu tentu akan melahirkan tindakan destruktif yang berkepanjangan.

Pemimpin yang adil
Saat ini memang sangat sulit mencari pemimpin yang dapat di percaya. Hal ini terbukti dengan semakin terpuruknya lembaga-lembaga hukum kita. Lembaga hukum kita telah tercoreng dengan ditemukannya beberapa oknum yang terlibat dalam korupsi dan kolusi. Jika lembaga hukum saja demikian, bagaimana dengan lembaga-lembaga yang lain? Jawabanya, tentu akan lebih para dari itu.
Pemimpin yang adil akan mengemban amanah sesuai yang telah ditetapkan atau dijanjikan. Ia akan konsisten mencapai tujuan dengan tindakan-tindakan mulia, yaitu dengan cara yang benar, dengan tidak mengorbankan kepentingan rakyatnya. Pemimpin yang adil tidak akan mengorbankan bawahan demi kepentingan dirinya bahkan kepentingan organisasinya. Pemimpin yang adil harusnya justru berani berkorban untuk orang lain terutama bawahan agar bawahannya mendapatkan hak sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
Dalam konsep yang sederhana, pemimpin adalah orang yang dipercaya mengemban amanah untuk mewakili kepentingan organisasinya (dalam kontek negara, rakyat). Pemimpin yang adil tidak akan melakukan atau memutuskan sesuatu tanpa landasan kebenaran. Apapun yang terjadi dengan organisasi, pucuk pimpinan bertanggungjawab atas segala sesuatunya. Sehingga keputusan apapun dan kebijakan apappun sangat tergantung dengan kebijakan pimpinan itu sendiri. Jika pemimpin dapat bersikap adil, dalam arti menempatkan segala sesuatu sesuai dengan ketentuannya, maka sinergi organisasi itu akan semakin baik. Jika sinergi ini dalam kondisi yang baik, maka organisasi itu akan semakin mudah mencapai tujuan bersama. Namun berbeda halnya jika pemimpin tidak bisa menempatkan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan. Sudah dapat dipastikan jalan organisasi akan pincang. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sinergi di dalam organisasi tersebut.
Ketidakadilan dapat berakibat fatal dalam kehidupan. Kondisi ini akan menimbulkan berbagai persoalan sosial akibat persaingan yang tidak sehat. Bahayanya lagi, ketidakadilan akan melahirkan kecemburuan sosial yang berakibat pada dihalalkanya segala cara untuk meraih jabatan. Kondisi ini pernah melanda umat islam, pada zaman kekhalifahan. Seperti yang digambarkan oleh KH Abdurrahman Muhammad (2009); “…caci maki dan fitnah terhadap keluarga Ali tidak saja dilakukan di wilayah privat, tapi juga di tempat-tempat umum, bahkan di masjid-masjid. Tak sedikit di antara para Khatib yang memanfaatkan mimbar Jumat sebagai ajang caci maki terhadap Ali dan keluarganya. Padahal, semua orang tahu bahwa Ali adalah orang pertama dari kelompok anak muda yang masuk Islam. Ia kelurga dekat, juga menantu kesayangan Rasulullah SAW. Ali mengikuti hampir semua peperangan menghadapi kaum kafir.”
Kejadian seperti itu tentu tidak boleh terulang kembali di kalangan umat Islam. Sesama muslim hendaknya mempererat persaudaraan dan ukhuah islamiah. Kalaupun ada pertentangan atau perbedaan hendaknya diselesaikan secara musyawarah. Hal itu akan lebih meredam perpecahan dan permusuhan.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menciptakan sinergi dalam organisasi. Yaitu kondisi dimana setiap komponen dalam komunitas itu memiliki rasa memiliki dan bersemangat untuk menjalankan tanggungjawabnya masing-masing.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memulai segala kebaikan dari pucuk pimpinan. Pemimpin adalah representasi dari setiap orang yang ada di bawahnya. Ia adalah representasi dari organisasi yang dipimpinnya. Jika pemimpin sudah sesuai dalam menjalankan amanah kekpemimpinan, secara otomatis menggerakan bawahan akan semakin mudah. Karena bawahan tidak akan membangkan dan akan lebih menghormati pemimpin yang amanah. Tetapi berbeda halnya jika pemimpin itu dholim. Pemimpin dholim; pilih sih atau tidak adil, maka akan lehir bawahan yang tidak sinergi dan tidak akan mengikuti bahkan menentang atasan mereka.
Kedua, seorang pemimpin harus transparan terhadap kebijakan-kebijakannya. Kebijakan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, yaitu bawahan. Jika pemimpin dapat memusyawarahkan segala keputusan dan ketentuan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban bawahannya, insya Allah bawahan akan menerima dengan lapang dada dan tidak akan membangkan dengan ketentuan pimpinannya. Oleh karena itu, pemimpin yang adil harus bersikap lapang dada dan terbuka terhadap segala ketentuan yang dibuat bersama. Tidak ada yang diistimewakan atas setiap komponen yang ada di dalam lembaga tersebut.
Ketiga, seorang pemimpin hanya akan mengambil keputusan jika sesuatu itu sudah dapat dibuktikan. Idealnya seorang pemimpin harus bijaksana terhadap segala persoalan. Ia tidak mudah percaya terhadap isu-isu yang berkembang, terutama yang berkaitan dengan persoalan di lembaga sendiri. Karena bisa jadi, orang-orang di sekelilingnya akan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapat simpati dari pemimpinnya. Dengan demikian, orang-orang yang berkepentingan akan menyebarkan fitnah terhadap golongan lain di dalam lembaga itu. Jika ini terjadi maka akan terjadi perpecahan, yang berarti juga akan mengurangi kekuatan atau bahakn menghancurkan organisasi itu sendiri.
Keempat, seorang pemimpin tidak suka menghukum, tetapi lebih suka memberi motivasi. Tugas ini adalah tugas yang sangat berat. Tetapi kalau kita melihat pola kepemimpinan Rasulullah saw, kita akan menemukan betapi beliau lebih banyak memotivasi orang-orang yang berbuat salah ketimbang memberi hukuman. Contoh saja ketika ada seseorang yang mengadu bahwa dirinya telah batal menjalankan puasa, karena ketidakmampuannya terhadap istrinya. Maka tidak sertamerta, Rasulullah menghujatnya sebagai manusia berdosa. Tetapi dengan bijaksana beliau mengajari dan menyarankan hamba itu berbuat sesuatu yang lebih baik. Inilah contoh pemimpin yang diharapkan oleh setiap manusia sepanjang jaman.
Kelima, seorang pemimpin lebih banyak memberi contoh daripada menegur. Dalam setiap kesempatan kita tentu melihat bagaimana pola kepemimpinan di lingkungan kita. Seorang pemimpin ditakuti, tetapi bukan dihormati. Kalaupun ada yang dihormati itu sementara saja saat pemimpin itu ada di depan mata, tetapi ketika pemimpin sudah pergi akan menjadi bahan caci maki. Coba lihatlah bagaimana bisa seorang pemimpin di negeri yang mayoritas muslim, justru jadi cemoohan, ejekan dan hujatan. Hal ini tentu karena seorang pemimpin tidak dapat memberi contoh yang lebih baik dalam kehidupan ini.
Mudah-mudahan kesadaran kita akan pentingnya memimpin dengan amanah akan membawa kita pada kedamaian dan kesejahteraan bersama. Hal itu hanya akan terwujud jika kita meneladani pola kepemimpinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Semoga dengan usaha yang sungguh-sunggu kita akan diberi kekuatan untuk mengikuti pola kepemimpiannya. Amin..

Thursday, August 12, 2010

Pemimpin Dilarang Mengeluh

Pemimpin Dilarang Mengeluh
Oleh
Wajiran, S.S., M.A.
(Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Beberapa saat yang lalu kita baru saja menyadari bahwa pemimpin kita mengeluh. Presiden mengeluh terhadap kondisi yang dihadapi, terutama mengenai terorisme. Presiden nampaknya wawas dengan adanya berbagai ancaman yang membahayakan dirinya. Jika presiden saja mengeluh bagiamana dengan rakyatnya? Jika presiden saja mengeluh, tentu rakyat kecil akan lebih mengeluh. Pasalnya, rakyat kecil terancam dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok, terutama menjelang lebaran. Belum lagi ancaman kenaikan TDL dan kebutuhan-kebutuhan lainya. Lebih menakutkan lagi akan adanya ledakan gas beracun yang siap menelan siapa saja, tentunya masyakat miskin yang hanya mampu membeli gas 3 kiloan.
Kenginan mengeluh adalah sifat yang dimiliki oleh setiap orang. Tindakan ini dilakukan oleh orang-orang yang menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Bisa karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya, atau karena kondisi yang tidak menyenangkan. Mengeluh umumnya dilakukan oleh orang-orang yang hidup susah. Baik susah secara ekonomi, karena belum dapat perkerjaan, susah karena harga-harga naik dan lain sebagainya.
Sikap mengeluh hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak sabar dengan cobaan yang dihadapi. Seberat apapun ujian dan tantangan dalam kehidupan harus dihadapi dengan lapang dada dan pantang menyerah. Namun demikian, bagaimana jika yang mengeluh itu seorang presiden? Tentu akan timbul berbagai pertanyaan. Apa yang terjadi dengan presiden tersebut? Apakah presiden sedang galau menghadapi harga-harga yang naik menjelang lebaran? Atau mengeluh karena kurang tunjangan?
Harusnya, seorang pemimpin pantang untuk mengeluh. Apalagi dihadapan rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang suka mengeluh menunjukan ketidakikhlasan atas pekerjaan dan beban yang diembanya. Apapun resikonya menjadi seorang pemimpin harus bisa menunjukan bahwa pemimpin itu siap menghadapi segala resiko, termasuk resiko mengorbankan jiwa dan raga. Pemimpin yang bijak merelakan diri dan segalanya untuk masyarakat yang dipimpinnya.
Jika seorang pemimpin mengeluh dihadapan rakyatnya bagaimana mungkin rakyat akan menggantungkan harapan dan perlindungan dari pemimpinnya. Rakyat sangat percaya bahwa pemimpin yang telah dipilihnya mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Pemimpin yang kuat secara lahir batin akan memberikan semangat dan atmosfir positif terhadap segala kondisi yang dihadapi. Hal itu akan menjadikan siapa saja yang dipimpin semakin percaya dan bersemangat menjalani kehidupan dengan berbagai kondisi.
Seseorang yang mengeluh menandakan tidak percaya kepada Allah swt. Karena sesungguhnya segala sesuatu datang dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dengan mengeluh ia akan menjadi lemah, frustasi dan merasa tidak mampu menghadapi persoalan yang dihadapi, akhirnya lahirlah ungkapan-ungkapan ketidakmampuan menahan diri dari segala persoalan yang dihadapi.
Dengan mengeluh atau dalam istilah anak mudah churhat, orang memang dapat mengurangi beban psikologis yang dihadapi. Tetapi hal itu tentu tidak etis jika dilakukan oleh seorang pemimpin, apalagi pemimpin negara. Seorang pemimpin yang terlalu banyak mengeluh akan menimbulkan efek negatif terhadap kehidupan sebuah organisasi, baik besar maupun kecil. Misalnya saja seorang karyawan yang banyak mengeluh tentu tidak akan disukai rekan kerjanya. Karena orang-orang seperti ini akan lebih banyak menggantungkan diri kepada oang lain. Dan tentunya kebiasaan mengeluh akan mempengaruhi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang yang suka mengeluh tidak dapat dijadikan tumpuan dan harapan, karena orang seperti ini hanya akan merepotkan orang lain.

Kepemimpinan Itu Adalah Amanah
Pada dasarnya, kepemimpinan adalah amanah yang membutuhkan karakter dan sifat-sifat tertentu. Seseorang dinilai layak untuk memegang amanah kepemimpinan atas dasar mampu memikul amanah kepemimpinan. Sifat-sifat kepemimpinan tersebut dalam Islam sangat penting untuk dipertimbangkan. Ia harus kuat secara lahir maupun batin. Fisik dan mental akan sangat mempengaruhi cara berfikir dan cara pengambilan kebijakan di dalam kepemimpinannya. Oleh karena itu, di dalam Islam perlu diperhatikan beberapa kriteria seorang pemimpin, diantaranya:
Pertama, al-quwwah (kuat). Seorang pemimpin haruslah kuat lahir dan batinnya. Karena ketika ia mengemban amanah memimpin umat, setiap orang yang dipimpinnya akan menggantungkan segala harapan kepadanya. Untuk itu kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Orang yang lemah akan mudah putus asa dan mudah mengeluh ketika diserahi tanggungjawab. Bahkan jika merasa tidak bisa cenderung akan meninggalkan tanggungjawab tersebut, bahkan akan mencari kesalahan orang lain.
Rasulullah Saw pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)?” Rasulullah saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”
Yang dimaksudkan kekuatan di dalam hadits tersebut adalah kekuatan ‘aqliyyah dan nafsiyyah. Artinya seorang pemimpin harus memiliki kekuatan akal yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan akal sehat, sesuai syari’at Islam. Seorang yang lemah akalnya, pasti tidak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara sulit yang harus segera diambil tindakan. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu melahirkan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana. Ia mampu melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang lemah akalnya, pasti akan merugikan dan menyesatkan rakyat yang dipimpinya.
Selain kekuataan ‘aqliyyah, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan nafsiyyah (kejiwaan). Kejiwaan yang kuat akan mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, emosional atau tidak sabar. Seorang pemimpin yang lemah kejiwaannya cenderung mudah mengeluh, gampang emosi, serampangan bahkan gegabah dalam mengambil keputusan. Pemimpin yang seperti ini sangat membahayakan bagi orang-orang yang dipimpin. Karena rakyat akan semakin merasa wawas dan gelisah dengan masa depan mereka.
Kedua, al-taqwa (ketaqwaan). Ketaqwaan adalah sifat yang sangat penting harus dimiliki seorang pemimpin. Ketakwaan merupakan kunci dari kepempimpinan di dalam Islam. Seorang pemimpin yang bertakwa akan berpegang teguh pada aturan dan nilai-nilai di dalam Islam. Oleh karena itu, pemimpin yang bertakwa tidak akan menyengsarakan rakyatnya hanya untuk kepentingan diri sendiri dan golongan. Bahkan lagi seorang pemimpin yang bertakwa akan mengikuti apa yang telah digariskan oleh Allah swt.
Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa tatkala Rasulullah saw melantik seorang amir pasukan atau ekspedisi perang, beliau berpesan kepada mereka terutama pesan untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan bersikap baik kepada kaum Muslim yang bersamanya.(HR. Muslim & Ahmad).
Pemimpin yang bertaqwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur urusan rakyatnya. Ia tidak akan menyimpang dari aturan Allah SWT. Ia sadar bahwa, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir. Untuk itu, ia akan selalu menjaga tindakan dan perkataannya. Berbeda dengan pemimpin yang tidak bertaqwa, yang cenderung untuk menggunakan kekuasaannya untuk menindas, mendzalimi dan memperkaya diri sendiri. Pemimpin seperti ini merupakan sumber fitnah dan penderitaan.
Ketiga, al-rifq (lemah lembut). Seorang pemimpin haruslah bersifat lemah lembut ketika bergaul dengan rakyat. Pemimpin akan semakin dicintai dan tidak ditakuti oleh rakyatnya jika ia memimpin secara lemah lembut. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa ‘Aisyah ra berkata, ”Saya mendengar Rasulullah saw berdoa di rumah ini, ‘Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia memberatkannya, maka beratkanlah dirinya, dan barangsiapa yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.” (HR. Muslim).
Pemimpin yang lemah lembut tidak akan ambisius dengan kekuasaan. Dengan demikian, ia tidak akan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Lebih dari itu, ia juga tidak akan meremehkan, memfitnah, dan menghujat lawan politik yang ada di sekitarnya. Inilah sumber fitnah dalam ranah kepemimpinan di negeri kita saat ini. Kita sering menyaksikan bagaimana para pemimpin di teras atas, dengan berbagai cara yang sesungguhnya dilarang di dalam Islam. Seolah-olah tindakan-tindakan menfitnah dan menghujat sudah bukan larangan lagi. Padahal setelah mendudukan mereka dapatkan, mereka tidak memperjuangkan sebagaimana yang dijanjikan sebelum mendudukinya.
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa diberi kekuasaan oleh Allah SWT untuk mengurusi urusan umat Islam, kemudian ia tidak memperhatikan kepentingan, kedukaan, dan kemiskinan mereka, maka Allah SWT tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan, dan kemiskinannya di hari kiamat.” (HR. Abu D├ówud & at-Tirmidzi).
Semoga kita terhindar dari sifat-sifat munafik yang ada di dalam diri kita. kita tidak boleh meminta jabatan, tetapi jika diserahi amanah memimpin umat maka harus dikerjakan sebaik-baiknya, yaitu dengan menerima segala resiko dan tidak mengenluh dengan berbagai kondisi. Hanya dengan inilah kita akan menemukan kepemimpinan yang dapat menjadi panutan, tumpuan dan gantungan dalam menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks ini. Semoga Allah memberikan jalan kemudahan bagi segala persoalan hidup kita. amin..

(dimuat di Republika hari Kamis 2 September 2010)

Wednesday, August 11, 2010

Hikmah Perintah Puasa

Hikmah Perintah Puasa




“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(Al-Baqarah: 183)

Bulan romadhan sudah hampir tiba. Bulan romadhan adalah bulan penggemblengan. Bulan, dimana setiap muslim dilatih untuk mengendalikan nafsunya. Baik nafsu makan dan minum, juga nafsu-nafsu duniawi lainnya. Pada bulan ini umat muslim dilarang melakukan hal-hal yang tidak penting, dan dianjurkan untuk mengerjakan amalan kebaikan sebanyak mungkin. Amalan itu baik yang berkaitan dengan ibadah langsung kepada Allah, maupun maupun ibadah sosial. Ibadah-ibadah yang dilakukan pada bulan puasa akan diberi balasan berlipat ganda.
Pada bulan puasa kita dilarang makan dan minum. Secara sosial, hal ini dimaksudkan agar kita dapat merasakan bagaimana sengsaranya saudara-saudara kita yang tidak mendapat nikmat berupa rezeki makanan. Kita diajari untuk hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam hal makanan dan minuman. Ini juga menunjukan bahwa Islam sangat menganjurkan kepada umat muslim agar ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain sesama muslim.
Puasa bukan hanya berhenti dari aktivitas makan dan minum, tetapi kita juga dianjurkan untuk tidak melakukan dosa-dosa kecil apalagi dosa besar. Dosa-dosa yang berkaitan dengan orang lain; seperti menggunjing, meremehkan, mencela, mengambil hak orang lain dan lain sebagainya. Dosa-dosa itu sering tidak disadari kita lakukan sepanjang hidup kita. Baik dengan keluarga sendiri maupun dengan tetangga kita. Mungkin kita sering jengkel, sering marah-marah karena ketidakpuasan kita atas mereka. Ataupun dosa kita kepada tentangga, karena kita secara sengaja maupun tidak disengaja menyinggung perasaan, membicarakan kekurangan-kekurangan mereka dan lain sebagainya. Intinya dengan berpuasa kita harus menyadari bahwa apa yang dirasakan orang lain harus dapat kita rasakan pula. Dengan demikian kita akan peka terhadap persoalan sosial yang ada di sekeliling kita.

Manfaat puasa
Di era modern ini begitu banyak orang mengalami persoalan kesehatan karena overnutrisi. Manusia modern melampiaskan nafsu makan dan minumnya sekehendak mereka. Walhasil, sering kita menemukan manusia-manusia yang cemas dengan kondisi tubuh yang tidak terkontrol, alias kegemukan. Kondisi tubuh yang tidak sehat ini juga berpengaruh terhadap kejiwaan mereka, sehingga timbulah berbagai macam penyakit mengerikan. Penyakit-penyakit seperti tumor, gagal ginjal, strok dan lain sebagainya lebih disebabkan oleh tidak terkontrolnya pola makan atau gaya hidup manusia itu sendiri.
Berkenaan dengan hal tersebut, puasa memberikan solusi atas berbagai macam persoalan overnutrisi yang terjadi pada masyarakat modern. Pertama, dari segi kesehatan, puasa akan memberikan dampak yang sangat bagus bagi kesehatan. Selama tidak berpuasa kita mengkonsumsi berbagai macam makanan yang mengandung berbagai zat yang terkadang tidak sehat bagi tubuh kita. Dengan berpuasa, tubuh kita akan mengurangi kadar negatif yang ada di dalam tubuh. Disamping itu, pada saat berpuasa kita juga dianjurkan memakan makanan yang lebih baik ketimbang di luar bulan puasa. Dengan demikian, pada saat puasa kita akan mengontrol makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita sesuai dengan kebutuhan.
Kedua, puasa akan memberi kesempatan pada alat pencernaan untuk beristirahat sebentar. Selama puasa makanan dan cairan yang masuk ke dalam tubuh dikurangi, maka secara otomatis alat pencernaan pun aktivitasnya berkurang. Kondisi ini akan mendukung pemulihan sel-sel yang terkontaminasi oleh zat-zat yang merusak tubuh. Itulah sebabnya selama puasa kita dianjurkan untuk lebih banyak minum, atau meminum minuman yang banyak mengandung gizi.
Ketiga, puasa dapat mengatur nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kita, sehingga menghindarkan kondisi overnutrisi. Menurut ahli kesehatan, kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.
Keempat, puasa dapat membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan berpuasa, membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita, sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.
Kelima, dengan berpuasa menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Keenam, manfaat lainnya berpuasa adalah; menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, dan meningkatkan fungsi organ tubuh.
Gambaran di atas merupakan bagian kecil dari manfaat puasa secara medis. Manfaat lainnya dan yang tidak kalah penting adalah manfaat secara mental (sepiritual). Puasa juga akan memberikan dampak yang luar biasa pada batin manusia. Kita memahami bahwa pola pikir dan otak kita sangat dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita. Oleh karena itu, dengan berpuasa tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap kejiwaan kita.
Dampak positif dari puasa diantarnya adalah; pertama, puasa melatih kita disiplin dalam mengendalikan diri. Kita makan dan menahan diri untuk tidak makan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kita juga dilatih mengendalikan diri untuk tidak menuruti semua nafsu-nafsu yang ada dalam diri kita. Kalau kita tidak berpuasa kita akan makan dan minum sekehendak kita, tetapi dalam puasa kita harus makan dan minum dalam waktu yang telah ditentukan. Kebiasaan mengatur pola makan dan minum ini jika dibiasakan akan melatih kita mengendalikan hawa nafsu kita.
Kedua, puasa melatih kita untuk bersikap jujur. Pada saat berpuasa mungkin tak seorangpun tahu kalau kita sedang berpuasa. Atau kita bisa saja mengatakan berpuasa tetapi ditempat tersembunyi kita makan sesuatu. Dengan berpuasa kita dilatih berkata dan bertindak secara jujur bahwa Allah mengetahui segala yang kita lakukan meskipun orang lain tidak mengetahuinya.
Ketiga, berpuasa memberikan kepada kita perasaan akan kebersamaan. Terutama jika kita melakukan buka puasa bersama. Kita juga diajari untuk saling mengingatkan pada saat sahur dianjurkan membangunkan sesama muslim yang sedang tidur untuk makan sahur. Dan lain sebagianya.
Terakhir dan yang paling penting, bahwa puasa menyadarkan kepada kita bahwa ktia adalah makhluk yang lemah. Kita menyadari bahwa sehari saja tidak makan dan tidak minum kita sudah kekurangan tenaga, apalagi jika kita tidak dapat menikmati makanan dan minuman selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi kehidupan kita. Kewajiban kita agar berpuasa ternyata memberikan manfaat yang sangat besar dalam diri kita baik lahir maupun batin. Dari sini juga dapat kita ambil pelajaran bahwa setiap perintah dan larang dari Allah itu sebenarnya hanya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Masihkah kita akan mengingkarinya? Hanya kita sendiri yang dapat menentukan dan mengambil pilihan atas kehidupan ini. Wallahua’lam..

(dimuat di Radar Jogja Rabu, 11 Agustur 2010

Sunday, August 8, 2010

Mental Pengemis

Mental Pengemis

Oleh
Wajiran, S.S., M.A.
(Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Entah apa yang terjadi pada diri kita sehingga kita sering lebih suka meminta daripada memberi. Kita lebih suka berpangku tangan, entah tentang persoalan diri sendiri apalagi persoalan orang lain. Kita mengabaikan tanggungjawab kita dan memilih menikmati hidup sesuai dengan kehendak kita. Ditambah lagi kita tidak pernah mau menyadari bahwa diri kita memiliki tanggungjawab yang sangat besar terhadap kehidupan ini.

Kita manusia diciptakan sebagai kholifah, pemimpin. Kita diharapkan dapat memberi kebaikan dengan kelebihan atau dengan potensi yang ada di dalam diri kita. Jika kita berlebih harta, diharap berjihad dengan harta, demikian juga dengan kelebihan kita akan tenaga, waktu, ilmu, waktu luang bahkan kelapangan dada kita pun harus kita manfaatkan untuk kebaikan bersama. Doa kita adalah bagian terpenting untuk merubah kehidupan dunia ini agar lebih baik. Doa adalah kekuatan terakhir, jika kita tidak mampu berjihad dengan kekuatan lainya. Doa adalah jihad yang paling rendah bagi seorang muslim.

Jika hidup kita hanya mengalir mengikuti arus, maka sudah dapat dipastikan kita tidak akan memiliki kontribusi apa-apa dalam kehidupan ini. Kita tidak akan dapat mempengaruhi atau merubah kaum kita. karena dengan mengikuti arus, kita sendiri tergelincir dalam kehidupan yang tidak pasti. Oleh karena itu kita harus melawan arus kehidupan, jika memang kehidupan saat ini jauh dari apa yang diharapkan dalam Islam.

Berpatokanlah pada agama agar kehidupan ini terarah. Agama adalah pedoman dan pegangan hidup yang harus dipegang secara teguh dan konsisten. Memang tidak mudah memegang komitmen itu. Akan ada pertentangan, perlawanan bahkan fitnah yang bakal kita hadapi. Tapi jika kita lulus dari semua itu, nama kita dan jasa kita akan menjadi legenda dalam kehidupan ini. Dan ingatlah apapun yang kita kerjakan bukan semata-mata untuk manusia, tetapi perjuangan itu semata untuk Allah semata. Jika kita gagal, kita tidak akan putus asa. Demikian juga kalau kita berhasil, kita tidak akan buta terhadap sanjungan dari manusia.

Perjuangkanlah setiap gagasan yang berdasar atas kebenaran. Setiap gagasan yang disampaikan akan memberikan pengaruh kepada orang lain. Minimal mengingatkan orang lain, atau sekedar menunjukan kebenaran itu. Gagasan yang di bagikan akan menjadi dinamika yang baik bagi kehidupan. Berbeda halnya jika gagasan itu tidak disampaikan dan bahkan hanya menjadi gerundelan di belakang. Gagasan yang tidak dibagikan ibarat api dalam sekam, kapan saja siap meledak dan tak terkendalikan.

Lakukan setiap kebaikan meskipun itu sedikit. Kerjakan secara terus menerus kebaikan itu agar nanti menjadi besar. Sadari bahwa yang besar itu dimulai dari yang kecil. Kesempurnaan dimulai dari kekurangan-kekurangan. Tidak ada satu hal pun yang terlahir dengan sempurna. Semuanya memerlukan proses dan waktu yang terus menerus bertumbuh dan berkembang. Seperti sebuah gedung yang harus diawali dari pembangunan fondasi. Fondasi yang paling dasar adalah kekuatan utama dari sebuah bangunan. Jika fondasinya tidak kuat, alamat keruntuhan bangungan itu. Meskipun fondasi tidak nampak tetapi ia memiliki peran besar dalam kehidupan sebuah bangunan. Semakin dalam dan semakin tidak nampak, fondasi akan semakin kokoh.

Fondasi adalah simbul kedalaman ilmu yang ada jauh di dalam diri seseorang. Ia tidak seperti harta, atau kekayaan lainnya tetapi ada di dasar diri setiap orang. Orang yang berilmu akan memiliki kekuatan lahir dan batin yang luar biasa di dalam mengarungi kehidupan ini. Itulah kekuatan yang tidak dapat disembunyikan dalam kehidupan ini. Ilmu adalah bekal terbaik dalam kehidupan ia bisa dibawa kemana saja. Ia bukan menjadi beban tetapi justru dapat menyelamatkan diri kita.

Dengan berbekal ilmu itulah jadikan dirimu pelita dalam kehidupan ini. Meskipun saat ini kamu dihujat, dicacimaki, diremehkan dan mungkin dikucilkan, jangan pernah menyerah karena itu adalah ujian dalam kehidupan mu. Ujian itu akan menjadikkan mu besar. Ibarat mutiara, saat ini kamu sedang diolah. Kamu sedang dirancang. Oleh karena itu kamu harus siap digembleng dengan berbagai persoalan dalam kehidan. Semakin berat dan semakin sulit persoalan yang kamu hadapi maka akan semakin sempurna kehidupan mu kelak. Emas dan muatiara hanya terlahir dari proses yang cukup panjang dan melelahkan. Jika putus di tengah jalan maka tidak akan disbut kesempurnaan.

Mulailah dari sekarang juga. Mumpung masih ada kesempatan. Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada kekuatan. Masih ada niat dalam kehidupn untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Niat adalah modal utama setiap orang untuk dapat merubah diri. Karena niat adalah kekuatan di dalam diri yang sangat berharga dalam kehidupan ini. Banyak orang yang sesungguhnya berpotensi, tetapi karena tidak memiliki niat yang kuat mereka hancur dan hilang dengan sendirinya. Mereka yang tidak memiliki niat yang kuat akan hanyut terbawa arus derasnya kehidupan yang sangat mengerikan ini.

Semoga kita diberi kekuatan dan keselamatan sehingga kita bisa mencampai tujuan hidup kita. amien..

Angkringan Jl. Pramuka, 09 Agustus 2010