Sponsor Links

Wednesday, September 5, 2007

KONSEP SASTRA MENURUT SIGMUND FREUD



Oleh
Wajiran, S.S.
(Dosen Universitas Ahmad dahlan dan
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)

Abstract

Psychoanalysis is a method of treating someone’s mental problems or disorders by making them aware of experiences in their early life and tracing the connection between these and their present behavior or feelings (Oxford English Dictionary). As the method of mental analysis, Psychoanalysis also dealt with the literary process. Literary work is treated as the process of mental illness. The literary work will never be created if there is no stimulant of mental disorder.

This research is done by reading all of Freud’s work especially the work that correlated with human’s creativity. As the first book the Interpretation of Dream is the main source that can be the basic data of this research. It is because the book is the fundament of Freud’s work.

Key words: psychoanalysis, mental disorder, literary work. etc.


A. Latar Belakang
Perdebatan mengenai keterkaitan antara karya sastra dengan penulisnya sudah lama terjadi. Namun demikian, bagaimanapun juga karya sastra tidak pernah lepas dari kejiwaan dan subjektifitas penulisnya. Berkaitan dengan hal tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman akan hubungan karya sastra dengan psikologi penulisnya.
Salah satu teori sastra yang membicarakan keterkaitan antara sastra dengan kejiwaan penulis adalah psikoanalisis. Dalam kamus Oxford English Dictionary, Psikoanalisis diartikan sebagai a method of treating someone’s mental problems or disorders by making them aware of experiences in their early life and tracing the connection between these and their prsent behaviour or feelings. Yaitu sebuah metode untuk mengobati persoalan mental atau kelainan mental dengan menyadarkan mereka akan pengalaman masa lalu mereka dan menghubungakan pengalaman itu dengan tindakan mereka saat ini. Dari pengertian dasar ini sastra dianggap cerminan dari kejiwaan penulisnya.
Konsepsi seperti tersebut di atas mendapat berbagai pertentangan, baik dari para sastrawan maupun dari para kritikus lain. Jika karya sastra dikaitkan dengan kalainan kejiwaan atau semata-mata ekpresi pengarang maka tidak ada keilmuan dalam karya sastra. Sastra tidak akan bernilai tinggi jika hanya berkaitan dengan kejiwaan pengarang. Karena hal itu biasanya akan berkaitan dengan kesulitan hidup, keputus asaan dan ketakutan-ketakutan pengarang terhadap kehidupan. Dengan begitu sastra tidak akan memiliki nilai yang positif sebagai sebuah karya ilmiah, karena berkaitan dengan perasaan.
Psikoanalisis melandaskan analisisnya pada kejiwaan manusia. Kecenderungan manusia selalu menjadi fokus persoalan dalam berkarya. Oleh karena itu tidak akan terlahir sebuah karya sastra tampa adanya stimulus dari sebuah kendala emosional yang terjadi pada diri pengarang. Konsep penelitian inilah yang menjadikan teori Psikoanalisis mendapat berbagai pertentangan. Karena dengan demikian akan merendahkan derajat pengarang. Pengarang akan dianggap hina karena diketahui kekurangan-kekurangan kejiwaannya dalam berkarya.
Kontradiksi-kontradiksi yang ada dalam teori Psikoanalisis dapat kita lihat pada pertentangan teoritis sampai sekarang ini. Teori Psikoanalisis diangap sangat sulit dibuktikan. Para analisis beranggapan bahwa penelitian yang melandaskan pada perasaan (jiwa) seseorang membutuhkan waktu yang cukup lama. Nawal EL Saadawi merupakan orang yang secara langsung menolak teori Psikoanalisis. Teori Psikoanalisis dianggap tidak mempunyai rasionalitas baik dalam kaintannya dalam bidang pengobatan maupun karya sastra.
Pada awalnya teori Psikoanalisis merupakan penemuan dari praktek psikeitri yang dilakukan oleh Freud. Singmund Freud mempelajari kejiwaan pasien-pasiennya dengan metode pengungkapan masa lalu pasiennya. Dari hasil analisis ini, Freud menemukan korelasi antara mimpi dengan kondisi kejiwaan ataupun kelainan-kealinan syaraf pada seseorang. Dari sinilah yang kemudian dikaitkan antara konsdisi kejiwaan dengan kreativitas pikiran manusia.
Penentangan terhadap teori psikoanalisis terus saja bergema dari bergai kalangan. Ironisnya pertentangan yang dilakukan oleh para kritikus itu justru menjadikan teori ini banyak diminati orang. Beberapa kritikus yang menggunakan konsep ini adalah Eric Fromm, Jaques Lacan, George Tarabishi dan J.C. Jung. Mereka yang pada awalnya menolak teori ini, akhirnya banyak mengambil pemikiran dari teori ini. Para kritikus ini banyak mengadopsi konsep yang ada dalam Psikoanalisis.
Ada beberapa kemungkinan teori psikoanalisis ini disangsikan. Pertama adalah penelitian yang berorientasi pada kondisi bawah sadar manusia sangat sulit untuk dilakukan. Dengan demikian teori ini juga sangat sulit untuk dibuktikan. Kedua, teori ini mengandung aspek-aspek yang berkaitan dengan harga diri seseorang. Sehingga jika hal itu dilakukan akan mendapatkan penolakan dari orang yang bersangkutan (sastrawan). Ketiga aplikasi dari Psikoanalisis dianggap tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih positif, baik dalam bidang penelitian sastra maupun dalam bidang pengobatan.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan beberapa alasan teoritis mengenai rasionalitas teori ini sebagai salah satu teori pendekatan sastra. Diharapkan penemuan ini bisa meyakinkan kita untuk menggunakan teori Psikoanalis dalam pendekatan sastra.

B. Sejarah Hidup Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah penemu teori psikoanalisis. Oleh karena itu ia disebut sebagai babak Psikoanalisis. Nama asli Sigmund Freud adalah Sigismund Freud. Ia dilahirkan pada 6 Mei 1856, dengan nama Yahudi, Schlomo. Tempat kelahirannya adalah di Freiberg yang sekarang disebut dengan Pribor di Moravia. Ayahnya bernama Jacob Freud seorang pengusaha tekstil, memiliki dua anak dari perkawinan sebelumnya bernama Emmanuel dan Philippe. Ibu Freud sebenarnya bernama Amalia Nathansohn 1835-1930. Sebagai anak pertama Freud adalah anak yang paling disayangi oleh ibunya. Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi”.(Jean Chiriac).
Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae sewaktu di sekolah dasar. Pada usia ini ia sudah menguasai beberapa bahasa, Freud adalah siswa yang mempunyai prestasi dalam bahasa Jerman.
Seperti apa yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tapa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran. Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881.
Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.
Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan. (baca: agama).
Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis terkemuka.
Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan.
Seiring dengan semakin matangnya ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis. Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada diri sendiri.
Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of Dream tahun 1899. Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi atas pemikirannya, akhirnya Freud mendapat gelar Professor di universitas Vienna. Sepanjang tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang diberi nama Veinna Psychoanalytic Society.

C. Konsep Sastra dalam Psikoanalisis
Setelah melakukan analisis secara mendalam dari seluruh karya Sigmund Freud, peneliti tidak menemukan konsep yang secara tegas membicarakan sastra. Freud lebih banyak membicarakan gejala-gejala psikologis yang diakibatkan oleh kerusakan syaraf pada seseorang. Gejala inilah yang menurut Freud membuat seseorang melakukan proses kreatif yang tertuang dalam bentuk karya.
Meskipun tidak secara tegas membicarakan konsep sastra, teori psikoanalisis banyak mengupas tentang proses kreatif seseorang. Proses inilah yang kemungkinan dianggap oleh sebagian kritkus berkaitan erat dengan proses terbentuknya karya sastra. Proses kreatif yang dimaksudkan disini adalah semua hasil karya hidup manusia. Ilmu pengetahuan, filsafat, seni, termasuk agama menurut Prof. Freud adalah hasil kreatifitas manusia. Jika demikian karya sastra merupakan bagian dari proses kreatif itu.
Emosi pengarang sangat dominan dalam penciptaan karya sastra. Oleh karena itu karya ini tidak akan pernah lepas dari kondisi mental manusia. Kondisi mental akan mendorong seseorang melakukan sesuatu yang disebut dengan proses kreatif. Inilah mengapa kondisi psikologis sering juga mempengaruhi nilai-nilai atau corak sebuah karya sastra. Kondisi psikologis sering menjadi materi dalam karya sastra.
Terlepas dari ada tidaknya konsep sastra dalam teori psikoanalisis berikut ini akan peneliti sampaikan konsep-konsep dasar psikoanalisis, yang kemungkianan juga ada kaitannya dengan proses penciptaan sastra itu sendiri. Penelitian ini dimulai dari penelaahan karya monumental Freud yang berjudul Introduction to Psichoanalysis dan The Intrepretation of Dream. Kedua buku inilah yang menjadi fondasi dasar terbentuknya psikoanalisis yang sangat terkenal itu.
Dari dua buku ini peneliti menemukan konsep dasar psikoanalisis, yang berkaitan dengan proses kreatif manusia. Ada beberapa konsep dasar yang bisa kita bicarakan dalam penelitian ini. Kosep dasar pertama adalah gejala atau tanda akan adanya ganguan mental manusia dalam berkaya. Konsep dasar itu adalah konsep kesalahan dan konsep mimpi. Dua hal ini merupakan bentuk lain yang diakibatkan oleh ganguan mental manusia. Mimpi dan kesalahan dalam bertindak sering diasosiasikan dengan gambaran mental seseorang.
Untuk mengetahui terjadinya proses kreatif manusia yang dianggap sama dengan proses mimpi dan gejala neurosis. Kiranya perlu disampaikan disini konsep-konsep dasar itu. Berikut ini akan peneliti sampaikan konsep psikoanalisis sebagai gambaran singkat terbentuknya proses kreatifitas manusia.

D. Psikologi kesalahan
Prof. Freud menganalisis beberapa keanehan mental yang terefleksi dalam tindakan seseorang. Freud percaya bahwa tindakan seseorang menggambarkan kondisi kejiwaan orang itu sendiri. Keanehan-keanehan yang sering dialami manusia pada umumnya adalah kesalahan bertindak dalam kehidupan sehari-hari (salah ucap, salah tulis, lupa nama orang, dll.) dan juga mimpi.
Konsep pertama Freud berkaitan dengan psikologi kesalahan. Gejala ini menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi pada seseorang merupakan petunjuk yang sangat penting dalam psikoanalisis. Kesalahan ucap, baik karena lupa, maupun karena keseleo lidah bisa dijadikan sebagai intrepretasi adanya gangguan mental. Dari kesalahan-kesalahan kecil ini kita bisa membaca kondisi psikologis seseorang.
Freud mencontohkan bahwa seseorang yang melakukan kesahan ucap memiliki beberapa faktor peyebab. yaitu bila dia lelah atau kurang sehat, bila seseorang terlalu bersemangat atau bila konsentrasinya terganggu (Intro to Psi, 18)
Pernyataan ini menunjukan keyakinan Sigmund Freud akan keterkaitan kondisi fisik dengan gejala-gejala mental manusia yang terefleksi dalam tindakan. Konsep inilah yang kemudian dikaitkan dengan kreatifitas manusia. Proses kreatif seseorang baik dalam bidang ilmu maupun seni juga dianggap memiliki kesamaan latarbelakang.

E. Mimpi
Pengertian akan mimpi memang masih sangat membingungkan bagi sebagian orang. Namun demikian dari analisis yang disampaikan oleh Sigmund Freud kita bisa menemukan dua jenis mimpi yang terjadi pada manusia. Ada perbedaan perngertian mimpi, antara orang sekarang dengan orang-orang jaman primitif. Meskipun masih juga banyak orang mempercayai bahwa mimpi mempunyai aspek supranatural atau mistik, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang primitif.
Pengertian mimpi yang pertama bisa kita pahami menurut Aristoteles bahwa mimpi tak lebih dari persoalan psikologis. Mimpi bukanlah ilham dari dewa, dan juga tidak ada kaitanya dengan hal-hal yang berbau kedewaan (devine), tetapi sebaliknya dari sifat-sifat kejam atau jahat (demonic). Sifat jahat itulah sifat manusia yang sebenarnya (The Interpretation of Dream, 3).
Berbeda dengan pandangan Aristoteles, penulis-penulis jaman sebelumnya tidak memandang mimpi sebagai suatu produk jiwa malainkan ilham yang berasal dari dewa (devine orgin). Oleh karena itu manusia jaman purba membedakan mimpi sebagai berikut; Pertama, mimpi yang nyata dan berharga, diturunkan pada si pemimpi sebagai peringatan atau untuk meramalkan kejadian-kejadian dimasa depan. Kedua, mimpi yang tak berharga, kosong dan menipu, bertujuan untuk menyesatkan atau menuntun si pemimpi pada kehancuran (tafsir Mimpi, 3). Dari kedua pengertian ini, kita menjadi sadar akan adanya makna yang terkandung dalam mimpi. Meskipun tetap dipahami juga bahwa tidak semua mimpi memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan kita.
Dengan mengacu pada Macrobius dan Artemindorus, Gruppe berpendapat bahwa mimpi bisa dipilah dalam dua golongan. Golongan pertama adalah mimpi yang diyakini hanya dipengaruhi oleh masa kini (atau masa lalu), dan tidak berkorelasi positif dengan masa depan. Termasuk dalam kategori ini adalah Enuknia (insomnia), yang secara langsung mereproduksi rangsangan yang diberikan atau pun sebaliknya, merangsang secara berlebihan, seperti mimpi buruk menentukan atau mempunyai korelasi yang pasti dengan masa depan. Termasuk di dalammnya adalah: (1) peramalan yang langsung diterima dalam mimpi (chrematismos, oraculum); (2) pemberitahuan tentang kejadian-kejadian di masa depan (orama, visio); dan (3) mimpi simbolik, yang membutuhkan interpretasi (oneiros, somnium). Konsep inilah yang sudah berabad-abad menjadi kepercayaan manusia (The Interpretation of Dream, 4).
Pengeritan mimpi di atas merupakan gambaran mimpi yang dilihat dari prosesnya. Di sisi lain kita juga bisa mengetahui makna mimpi dari muatan yang ada dalam mimpi itu sendiri. Menurut Weygandt, mimpi meneruskan kehidupan alam sadar. Mimpi kita selalu menghubungkan dirinya dengan pikiran-pikiran tertentu yang sesaat sebelumnya muncul dalam kesadaran kita. Oleh karena itu muatan mimpi selalu ditentukan kurang lebih oleh kepribadian, umur, jenis kelamin, lingkungan, pendidikan dan kebiasaan, serta oleh kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman dari seluruh kehidupan masa lalu seorang indivudu (Maury, 1855).
Dari pengertian-pengertian di atas Freud memegang teguh pendiriannya atas teori mimpi. Meskipun Ia mengakui akan adanya kesulitan di dalam membuktikan gagasan-gagasannya itu. Ia tetap berkeyakinan akan adanya beberapa titik terang bahwa mimpi bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik dan pengalaman alam sadarnya. Mimpi hanya reaksi tidak teratur dari fenomena mental yang berasal dari stimulasi fisik. Freud mencontohkan seseorang yang sedang tidur kemudian ia bermimpi sedang minum. Maka sudah bisa dipastikan bahwa pada saat itu ia sedang merasakan kehausan (Intro to Psychoanalysis, 86).
Lebih konkritnya Freud mencontohkan hubungan antara isi mimpi dengan kandung kemih atau kondisi rangasangan seksual ternyata sangat kuat. Orang yang sudah puber juga diawali dengan mimpi basah atau mimpi berhubungan dengan lawan jenis. Hal ini merupakan bukti yang paling mudah dipahami bagi setiap orang. Disinilah yang memperkuat keterkaitan antara mimpi dengan kondisi riil kehidupan seseorang. Dalam hal ini konsep mimpi terbuka bagi kita lewat tiga jalan. Yaitu lewat pendekatan stimuli pengganggu tidur, lewat lamunan, dan lewat mimpi yang diatur selama hipnotis (Psiko, 102).
Dari seluruh aspek mimpi yang sudah kita bicarakan di atas, pengertian mimpi bagi Freud adalah perwujudan dari harapan yang tidak bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, mimpi mempunyai dua karakteristik utama. Yaitu sebagai pemenuhan keinginan dan merupakan pengalaman halusinatif (psiko, 133). Untuk lebih memperjelas proses atau sebab terjadinya mimpi akan kita jelaskan sedikit sebab akibat terjadinya mimpi pada manusia.
Ransangan dan Sumber Mimpi
Dari pengertian dan sebab-sebab terbentuknya mimpi, kita juga harus mengetahui rangsangan dan sumber yang melahirkan mimpi. Jika manusia jaman kuno selalu menghubungkan mimpi dengan bisikan syaitan atau tuhan. Maka yang jadi persoalan adalah apakah mimpi bersifat psikologis atau fisiologis. Dari pertanyaan ini baru bisa kita jabarkan akan beberapa benyebab lahirnya mimpi itu sendiri. Freud kemudian memformulasikan empat variable sumber mimpi. Yaitu rangsangan inderawi eksternal (berorientasi pada objek), rangsangan inderawi internal (berorientasi pada subjek), rangsangan fisik internal (beroritenasi pada organ-organ tubuh), dan yang terakhir adalah sumber-sumber rangsangan psikis murni (The Interpretation of Dream, hlm. 25).
a) Rangsangan inderawi eksternal
Dalam veriabel ini Freud memandang bahwa selama tidur jiwa manusia atau indera manusia tetap akan bisa merasakan sesuatu yang ada di luar dirinya. Pikiran tetap berkomnukasi secara terus menerus dengan dunia luar meski kita dalam kondisi tidur. Rangsangan yang mencapai tubuh selama kita tidak bisa dengan mudah menjadi sumber mimpi.
Dalam kontek ini Jessen telah melacak berbagai rangsangan inderawi seseorang yang sedang tidur. Ia mengatakan bahwa setiap suara yang ditangkap, walaupun samar-samar akan merangsang reaksi baru agar sesuai dengan representasi mimpi; gelegar suara petir akan membawa kita ketengah pertempuran, kokok ayam jantan mungkin akan ditransformasikan kedalam jeritan manusia. Dan suara derit pintu mungkin akan memunculkan mimpi tentang pencuri yang masuk ke dalam rumah. Contoh lain ketika kita tidur di tepi tempat tidur dan kaki terjulur sampai ke ujung, mungkin kita akan bermimpi sedang berdiri di tepi tebing yang curam dan kita bisa berteriak karena kita merasa seolah jatuh ke tebing yang curam itu. Itulah beberapa contoh yang bisa kita pelajari dari variabel ini.

b) Rangsangan inderawi internal ( berorientasi subjek)
Bukti utama dari kekuatan pendorong mimpi melalui rangsangan inderawi berorientasi subjek diberikan oleh apa yang disebut halusinasi hipnogogis (halusiansi yang muncul ketika berada dalam keadaan mengantuk). Atau yang disebut oleh Johann Muller sebagai “manifestasi visual yang fantastis”. Rangsangan inderawi subjek ini adalah gambar-gambar hidup yang dapat berubah-ubah, yang pada banyak orang muncul terus menerus selama periode sebelum tidur dan bisa jadi masih melekat bahkan setelah membuka mata. Dengan kata lain Wundt mengatakan bahwa sebuah peran penting dimainkan dalam ilusi-ilusi mimpi oleh sensasi berorientasi subjek dari penglihatan dan pendengaran yang kita kenal di alam sadar. Seperti cahaya berkilauan di kegelapan, bunyi dering, dengung, dan sebagainya.
Tidak hanya pada gambar, halusinasi suara dari kata-kata, nama juga bisa timbul secara hipnogogis dan kemudian mengulang dirinya dalam mimpi. G. Trumbull Ladd mengadakan pendelitan yang berhasil memperoleh kemampuan untuk menyadarkan dirinya sendiri secara tiba-tiba, tampa membuka mata, kedua atau lima menit setelah berangsur-angsur tertidur. Hal ini memungkinkannya untuk membandingkan proses menghilangkannya sensasi retina dengan gambar-gambar mimpi yang masih melekat di ingatannya. Dia meyakinkan kita bahwa hubungan erat antara keduannya dapat selalu dikenali, karena titik-titik berkilauan dan garis-garis bercahaya yang seara spontan diterima retina, boleh dikatakan menghasilkan kerangka atau pola dari gambar-gambar mimpi yang diterima secara psikis. Sebagi contoh, sebuah mimpi dimana di depannya ia melihat dengan jelas baris-baris cetakan, yang dia baca dan pelajari, dapat disamakan dengan sejumlah titik-titk bercaya yang tersusun dalam baris-baris pararel.


c) Rangkaian fisik internal (berorientasi organ)
Rangsangan fisik internal terdapat pada tubuh manusia itu sendiri. Organ tubuh yang terserang penyakit akan menjadi materi dalam mimpi. Menurut Tissie organ-organ yang berpenyakit menanamkan ciri-cirinya dalam isi mimpi (Freud; 1911). Ia menceritakan tentang wanita berumur 43 tahun yang selama beberapa tahun terlihat sehat, terganggu dengan mimpi yang membuatnya gelisah. Dan akhirnya dalam pemeriksaan ia dinyatakan terkena penyakit jantung, sama dengan yang ada dalam mimpinya.
Masih berkaitan dengan rangsangan mimpi fisik internal, Krauss mengatakan organ tubuh bisa dipecah menjadi dua kelas; (1) Sensasi-sensasi umum-yang mempengaruhi keseluruhan sisitem; (2). Sensasi-sensasi spesifik, yang berasal dari sistem pokok organ-organ vegetatif, yang pada gilirannya bisa dipecah lagi menjadi 5 kelompok; (a) otot, (b) pernapasan, (c) pencernaan, (d) seksual, (e) sensasi-sensasi pendukung. (Freud; 1911,42).

d) Sumber-sumber rangsangan psikis
Setelah memahami peran penting dari pengaruh ekternal dan pengalaman seseorang, mimpi juga ternyata sangat berkaitan dengan sumber rangsangan psikis. Dari semua keterangan itu dapat disimpulkan bahwa konsep mimpi memang sangat komplek, disamping pengalaman dan pengaruh ekternal juga kondisi kejiwaan memiliki peranan yang besar dalam terbentuknya mimpi. Menurut Wundt, pada kenyanyakan mimpi terdapat kerjasma dari rangsangan jasmani (somatic) dan rangasangan psikis yang keduanya tidak diketahui atau dikenali memalui perhatian dan keterterikan-ketertarikan selama hari sebelumnya.

F. Neurosis
Neurosis adalah penyakit mental yang disebabkan oleh depresi atau tingkah laku tidak normal, yang bisa dilihat dari gejala-gejala fisik tetapi tampa adanya tanda-tanda sakit / a mental illness that causes depression or abnormal behaviour, often with pshysical symptoms but with no sign of disease (Oxford English Dictionary). Gejala neorosis ini juga bisa disebabkan atas ketakutan akan kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, takut tidak dihargai, ataupun bisa juga ketakutan karena kesalahan yang menurut pelaku adalah sesuatu dosa yang besar.
Dalam psikoanalisis ada dua neurosis yaitu neurosis histeria yang ditemukan oleh J. Breuer (1880-1882), yang kedua adalah neurosis obsesional. Kita akan fokuskan pada neurosis yang kedua. Neurosis obsesional disibut juga dengan tekanan mental (compulsion neurosis) terjadi bila pikiran pasien dipenuhi pemikiran-pemikiran yang benar-benar tidak menarik baginya, dia merasakan hasrat yang asing baginya dan dia terpaksa melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukainya tapi tidak berdaya menolaknya. (Introduction to Psycho; 276). Yang lebih menarik lagi bahwa orang yang terserang penyakit neurosis obsesional adalah orang yang justru energik, sangat keras pendiriannya dan sering dikaruniai intelektual di atas rata-rata. Karena itu dia selalu menuntut standar yang tinggi atas perkembagnan etika, terlalu hati-hati dan sering benar dalam bertindak.
Terjadinya kesalahan ucap, kesalahan tindakan, atau lupa terhadap nama seseorang yang sangat dekat dengan kita, merupakan dampak dari gejala adanya gangguan mental. Gangguan mental itulah yang menyebabkan terjadinya ketidakselarasan antara pikiran dan tindakan. Hal ini sama halnya dengan apa yang terjadi dalam mimpi. Mimpi juga diyakini memiliki keterkaitan baik secara fisik maupun secara psikis. Itulah sebabnya pemahaman akan mimpi memberikan kesadaran pada kita akan rasionalitas kaitan antara sastra dengan kondisi psikologis penulis (neurosis).

G. Proses Kreatif Manusia dalam Pandangan Psikoanalisis
Pembahasan kita tentang keanehan-keanehan yang terjadi pada manusia merupakan langkah awal untuk memahami proses terbentuknya karya sastra. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, gangguan mental itu menstimuli seseorang untuk melakukan tindakan kreatif. Tindakan kreatif manusia itu diantaranya adalah ilmu pengetahuan, agama, filsafat, seni dan juga karya sastra.
Jika demikian maka perlu dipahami juga bagaimana keterkaitan antara karya sastra dengan psikoanalisis itu sendiri. Setelah membahas proses mimpi dan juga gangguan psikis pada manusia, kita pun akan membicarakan proses kreatif yang disampaikan oleh Sigmund Freud. Setelah Introduction to Psychoanalysis (1958) dan juga The Interpretation of Dream (1911), Freud banyak menulis tentang sejarah pemikiran Yunani yang berkaitan dengan mitos, dorongan seksual pada manusia dan juga kekecewaan-kekecewaan manusia yang ditemui selama dalam hidupnya. Beberapa karya Freud yang bisa disebutkan disini adalah; Totem and Taboo (1918), Civilization and Its Discontents (1930), Leonardo da Vinci and A Memoir of His Childhood (1989), dll.
Leonardo da Vince and A memoir of His Childhood merupakan buku yang paling nyata mengungkap keterkaitan antara kecerdasan dengan emosi seseorang. Freud ingin menunjukan bahwa teori Psikoanalisis bisa diaplikasikan dalam berbagai karya manusia. Dalam buku ini Ia beranggapan bahwa seorang yang jenius adalah orang yang anti sosial dan tidak bisa menikmati keindahan dunia. Namun sayangnya apa yang didapatkan dari sisi kehidupan Leonardo da Vinci adalah hal yang diluar dugaan. Leonardo adalah orang yang periang, suka pada keindahan alam dan suka bergual dengan orang-orang di sekelilingnya. ( Freud; 1989,11).
Jika sastra berkaitan dengan kondisi emosional, lalu bagaimana keterkaitan antara mimpi dengan karya sastra? Perbandingan paling nyata antara mimpi dengan karya sastra adalah adalah lamunan (day dream). Kedua kejadian ini hampir sama meskipun dalam kontek yang berbeda. Dari lamunan seorang penulis mampu membuat materi dasar karya-karya puitis. Penulis bisa mengubah, menyamarkan atau memodifikasi lamunannya menjadi cerita novel, dan drama. Pahlawan dalam cerita itu adalah dirinya sendiri yang digambarkan dengan terang-terangan atau diasosiasikan menjadi orang lain.
Konsep psikoanalisis menitikberatkan pada impuls-impuls kejiwaan manusia. Dorongan atau inpuls yang paling utama dalam diri seseorang adalah; keinginan seksual, kebutuhan akan makan dan minum yang merupakan faktor internal. Kedua faktor ini merupakan kebutuhan pokok atau basic need pada setiap manusia. Di sisi lain manusia juga mempunya pengaruh ekternal yang sangat berpengaruh terhadap kejiwaannya. Faktor ekternal itu adalah dorongan yang didapat dari lingkungan atau orang lain. Faktor ini merupakan tantangan paling komplek dan sangat berpengaruh terhadap pembentukan jiwa seseorang (C. George Boeree; 1997).
Dorongan seksual bukan hanya semata-mata keinginan untuk mendapatkan keturunan, tetapi juga menjadi penggerak utama manusia berkarya. Dorongan inilah yang menjadikan, manusia mencapai taraf hidup lebih baik. Dorongan seksual juga bisa bersifat negatif dan juga positif. Dalam Psikoanalisis, dorongan seksual yang diasumsikan sebagai sesuatu yang positif dinamakan dengan sublimasi. Yaitu mengarahkan dorongan instingtual ke dalam bentuk tindakan-tindakan intelektual. Dalam buku Leonardo da Vinci and A Memoir of His Childhood, Freud menandaskan bahwa Leonardo bukanlah orang yang tidak memiliki hasrat sama sekali, tetapi dia memiliki semua yang secara langsung atau tidak langsung merupakan kekuatan penggerak-il primo motore- dibalik semua tindakanya. (Freud; 1930,24).
Bukan hanya dorongan seksual sebenarnya yang menjadi motive terbentuknya pemikiran kreatif manusia, tetapi juga kebutuhan dasar lainnya. Kebutuhan makan dan minum nampaknya juga sangat berkaitan dengan tindakan manusia. Setiap individu bekerja atau berkarya tidak lain dan tidak bukan merupakan upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan akan makan dan minum merupakan kebutuhan dasar yang tidak pernah lepas dari semua mahkhluk hidup. Dari gagasan inilah yang juga melahirkan meterialisme dialektik ala pemikiran Karl Marx yang melandaskan pada materi sebagai satu-satunya tujuan hidup manusia.
Kebutuhan untuk diakui merupakan faktor lain dari kebutuhan dasar manusia. Jika kebutuhan seksual dan makan/minum sebagai faktor internal, kebutuhan manusia untuk diakui merupakan faktor eksternal. Kebutuhan ini dalam bahasa psikoanalisis disebut dengan kebutuhan atas pengakuan. Kebutuhan ini biasanya memiliki tekanan psikologis yang lebih berat terhadap manusia. Sehingga tekanan yang diakibatkan oleh kebutuhan ini biasanya lebih dominan pada diri manusia.
Kekecewaan-kekecewaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kehidupan sosial melahirkan sebuah motivasi atau keinginan yang kuat untuk berkarya pada seseorang. Kondisi yang sulit dalam hal hubungan sosial sering menjadi motivasi seseorang berkarya. Konsep seperti inilah yang nampaknya melatarbelakangi Sigmund Freud berasumsi meneliti sejarah kehidupan sosial Leonardo da Vinci. Seperti yang sudah disebutkan diatas, Freud justru heran ketika menemukan bahwa Leonardo adalah seorang yang ramah dan periang. Karena dalam konsepsi Freud sebelumnya bahwa kebanyakan para jenius adalah orang yang serius dan sering menhadapi persoalan dalam kehidupan sosial.
Akibat dari tekanan emosional yang dialami oleh manusia bukan hanya menimbulkan daya kreatif berupa ilmu pengetahuan dan budaya, tetapi juga agama. Sigmund Freud beranggapan bahwa agama hanyalah suatu illusi manusia. Manusia yang tidak mampu menyelesaikan segala persoalan dunia, mencari-cari sesuatu yang bisa menenangkan batinnya yang sebut dengan agama. Menurut Sigmund Freud agama tidak lain dan tidak bukan hanyalah hasil kreatifitas pikiran manusia. (Sigmund Freud; 1930).
Latar belakang lahirnya agama menurut Freud disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kehidupan manusia pada dasarnya ada dalam penderitaan. Dalam kenyataannya, ketidakbahagiaan jauh lebih mudah dialami oleh manusia. Akibatnya manusia terancam penderitaan dari tiga arah: dari tubuh kita sendiri, yang ditakdirkan untuk rusak dan membusuk, dan bahkan tanda-tanda peringatan untuk itu pun selalu berupa rasa sakit dan kegelisahan. Kedua, dari dunia luar, tantangan ini mungkin melanda kita dengan kekuatan merusak yang berlimpah dan tanpa ampun. Dan yang terakhir dari hubungan kita dengan sesama. Penderitaan yang paling sering muncul adalah penderitaan yang terakhir ini. Hubungan kita dengan sesama sering menimbulkan penderitaan tiada tara, yang terkadang tidak bisa kita lampiaskan secara langsung dengan orang-orang yang bermasalah dengan kita. Karena itu usaha kita untuk mengalihkannya adalah dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang kita sebut dengan kreatifitas pikiran itu.

H. Penutup
Urian diatas memberikan gambaran secara jelas akan keterkaitan antara karya sastra dengan kejiwaan seorang sastrawan. Sastra merupakan cerimanan atau gambaran yang ada pada penulisnya sendiri. oleh karena itu sastra tidak bisa lepas dari latar belakang penulisnya. Sastra akan sangat dipengaruhi oleh pola pikir, kejiwaan dan kedewasaan penciptanya. Meskipun demikian sastra tidak selalu identik dengan penulisnya yang sengsara. Karena ekpresi yang dilakukan penulis bukan semata-mata dari apa yang ada dalam dirinya tetapi juga kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya.

Berkenaan dengan hal tersebut sastra bisa merupakan kritik terhadap kondisi sosial. Baik secara global maupun sempit sastra bisa merupakan reflesi sosial. Sastrawan yang tertindas secara politik tentu akan banyak menggambarkan kedholiman perpolitikan yang dialami. Sedangkan seorang sastrawan yang secara sosial berada dalam posisi yang sulit secara ekonomi, tentu akan menggambarkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kesulitan hidup yang dihadapi. Meskipun semuanya tidak jaminan akan demikian, tetapi stimulan yang dialami oleh pengarang jelas akan sangat berpengaruh pada diri dan karya yang dibuat oleh seorang pengarang.


DAFTAR PUSKATA


Daiches, David, 1981, Critical Approaches to Literature, Longman, London and New York.
Freud, Sigmund, 1930, Civilization and Its Discontents, Norton & Company, New York.
.........................., 1989, Leonardo da Vinci and A Memory of His Childhood, London, New York.
............................, 1918, Totem and Taboo, Vintage Books, New York.
............................, 1911, The Interpretation of Dream, Vintage Books, New York.
............................, 1958, A General Introduction to Psychoanalysis, Permabooks, New York.
Wellek, Renne, dkk., 1990, Teori Kesusastraan, PT. Gramedia, Jakarta.
Wittkower, Margot, dkk., 1969, Born Under Saturn The Character and Conduct of Artist; Documented history From Antiquity to The French Revolution, WW. Norton & Company, Inc., New York.

Monday, September 3, 2007

Sastra dan Perubahan Masyarakat


Oleh
Wajiran, S.S.
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM dan
Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Pengantar
Sampai saat ini masih banyak orang meremehkan sastra. Dengan kata lain orang cenderung menganggap sastra sebagai sesuatu yang tidak penting dalam pembangunan masyarakat. Dibandingkan dengan bidang lain, seperti ilmu pengetahuan alam, tehnik, kesehatan dan bidang praktis lain, sastra dianggap sesuatu yang tidak mendatangkan nilai ekonomis. Hal ini terlihat pada animo para mahasiswa yang mayoritas lebih memilih jurusan eksata dibandingkan jurusan yang berbau sastra. Sastra atau ilmu budaya biasanya menjadi pilihan terakhir setelah yang lain tidak bisa didapatkan. Pandangan ini merupakan gambaran akan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra.
Dibandingkan dengan bidang eksata, sastra memang tidak mempunyai pengaruh secara langsung atau secara fisik. Peranan sastra sebenarnya lebih pada emosi atau spiritual. Sastra merubah seseorang melalui pola pikir, wawasan dalam memandang hidup dan lain sebagainya. Ahmadun Yosi (2007) mengatakan bahwa sejarah pergolakan suatu bangsa tidak pernah lepas dari dorongan-dorongan yang diekpresikan melalui karya sastra. Karya-karya besar seperti Max Havelar (Multatuli), Uncle Tom Cabin (Beecher Stower) dan sajak-sajak Rabindranat Tagore telah menginspirasi perubahan sosial yang begitu dasyat di lingkuangan masyarkat pembacanya.
Jabrohim (2005) mengatakan bahwa kedudukan sastra sama dengan ilmu pengetahuan yang lain, yaitu sesuatu yang penting bagi kemajuan masyarakat. Dengan karya sastra pengarang bisa menanamkan nilai-nilai moral dan pesan-pesan tertentu kepada masyarakat pembacanya. Subjektivitas yang disampaikan pengarang melaui karya sastra mampu memberikan motivasi atau dorongan bagi suatu perubahan baik secara individu maupun kolektif (masyarakat).
Yang menjadi pertanyaan, kenapa sastra bisa mempengaruhi masyarakat? Plato mengatakan bahwa sastra merupakan refleksi sosial (Diana Laurenson, dkk. 1971). Sebagai suatu reflesi sosial ia akan menggambarkan kondisi sosial yang ada di sekelilingnya. Karena muatan yang ada dalam sastra adalah gambaran atau reflesi sosial, sastra akan mendapatkan tanggapan dan kritik sekaligus penilaian dari pembaca. Dari jalan ini sastra akan mempengaruhi pola pikir masyarakatnya.
Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra diakibatkan oleh kurangnya pemahaman mereka terhadap pentingnya sastra dalam perubahan sosial. Masyarakat masih banyak yang tidak memahami nilai-nilai moral dan kritik yang ada dalam sastra. Disamping itu membaca karya sastra memang membutuhkan waktu yang cukup menyita dibandingkan dengan media lain. Dibandingkan dengan film dan drama, karya sastra membutuhkan waktu yang lebih lama. Ditambah lagi budaya membaca masyarakat kita yang memang masih sangat rendah.
Dewasa ini tanggapan masyarakat masih sebatas golongan terdidik saja. Para pelajar dan mahasiswa sudah mulai memahami pentingnya menelaah karya sastra. Meskipun mereka membaca karya sastra masih sebatas sebagai hiburan, tetap nilai-nilai moral tetap akan mempengaruhi mereka. Sehingga tidak jarang penulis-penulis terkenal di negeri ini mulai digandrungi oleh para remaja Indonesia.

Funsi Sastra
Sastra sebagaimana yang disebutkan Horace berfungsi sebagai dulce et utile, yaitu sebagai penghibur sekaligus berguna (Renne Wellek, dkk 1995). Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa peranan sastra bukan sekedar menghibur tetapi juga mengajarkan sesuatu.
Karena perenannya yang menghibur sekaligus berguna inilah maka sastra dianggap sebagai media yang paling efektif. Meminjam istilah yang sering digunakan oleh Prof. Chamamah Soeratno sastra adalah means that not transmitable by other means, karya sastra bisa dikatakan sebagai media yang tidak tergantikan oleh media lain. Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan kelebihan sastra dibanding dengan media kritik lain.
Sastra merupakan sarana kritik yang menghibur sehingga pesan yang tersampaikan bisa meresap dalam pikiran manusia secara tidak disadari. Dengan demikian konfrontasi terhadap nilai suatu ideologi yang ada dalam sastra tidak kasar, tetapi merasuk secara perlahan-lahan. Sastra yang memiliki pengaruh seperti ini biasanya adalah sastra yang mengandung nilai didaktis yang tinggi; dan umumnya sastra yang demikian biasanya karya sastra yang berkaitan dengan suatu agama atau ideologi politik.
Montgomery Belgion dalam buku Renne Wellek mengatakan;
“Irresponsible propagandist”. That is to say, every writer adopts a view or theory of life... the effect of the work is always to persuade the reader to accept that view or theory. This persuasion is to say, the reader is always led to believe something, and that assent is hypnotic-the art of the presentation seduces the reader...
Sastra yang berkaitan dengan agama bisa kita lihat pada karya sastra modern saat ini. Karya Helvi Tiana Rosa misalnya merupakan contoh yang paling kongkrit dari sastra yang berbau keagamaan. Karya-karya Helvi telah mempengaruhi kalangan muda Indonesia yang gemar membaca karya-karya sastra islami. Dan objek dari sastra ini adalah kaum muda yang biasanya sangat optimis terhadap kehidupan. Sastrawan-sastrawan yang seirama dengan Helvi adalah Gola Gong, Asna Nadia, dll.
Sastra yang biasanya kontraversial dan sering menimbulkan polemik adalah sastra yang berbau ideologi politik. Sastra yang seperti ini sering mengkonfrotasi penguasa yang dholim. Pramudia Ananta Toer merupakan sastrawan yang bisa dikatakan mewakili sastrawan politik. Karya-karyanya sempat dilarang terbit oleh pemerintahan Orde Baru karena dianggap membahayakan penguasa Suharto. Selain Pramudya masih banyak sastrawan Indonesia yang menyerukan perlawanan terhadap kedholiman penguasa diantaranya; Rendah, M.H. Ainun Najib, Ratna Sarumpaet, dan Nano Riantarno. Mereka adalah sastrawan yang pernah sercara langsung dianggap berbahaya oleh pemerintaha Orde Baru.
Adanya pelarangan atau pembredelan terhadap suatu karya sastra menunjukan pentingnya sastra terhadap perubahan pola pikir pembacanya. Sastra bisa menyadarkan seseorang akan eksistensinya dan juga kebenaran-kebenaran yang harus diperjugankan dalam kehidupan. Dengan karya sastralah orang akan mampu memberikan suatu pemahaman atau pemikiran secara leluasa dan independen. Sastra merupakan sarana nation formation atau nation building yang berarti sastra sebagai pembentuk karakteristik masyarakat.
Sastra merupakan benteng terakhir dari kebudayaan dan peradaban kita yang masih mampu kita pertahankan dari hempasan gelombang penjajahan ekonomi, politik dan militer dari penjajah kafir (Jabrohim, 2005). Dengan karya sastra kita bisa melihat betapa kejayaan masa lalu telah bisa merubah negeri ini seperti yang kita nikmati selama ini. Dengan adanya karya sastra kita bisa melihat dan mengerti pemikiran para pejuang dan leluhur yang telah melukiskan pemikiran mereka dalam karya sastra yang mereka tinggalkan. Peninggalan-peninggalan seperti hikayat, kitab-kitab, babad dan serat yang ditulis para pujangga mampu memberikan gambaran kehebatan leluhur kita dimasa yang lalu.
Lebih lanjut sastra merupakan ekpresi identitas yang bisa digunakan untuk memperteguh identitas suatu bangsa. Nilai-nilai yang ada dalam sastra yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat tentu akan memberikan corak tersendiri dalam masyarakat dimana sastra itu lahir. Seorang sastrawan akan memberikan nilai-nilai didactic sebagai kritik sekaligus peringatan kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan menyadari kekurangan dan kekhilafan yang telah dilakukan. Dari sinilah nilai-nilai identitas akan muncul dan terjaga karena karya sastra itu. Sastra akan menanamkan nilai-nilai itu tampa disadari oleh siapapun.
Penutup
Gambaran di atas menunjukan betapa karya sastra tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat. Sebagai cerminan masyarakat, sastra mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu penting kiranya dipahami bahwa sastra sudah sepantasnya untuk diperhatikan dan diapresiasi sebagai sesuatu yang sangat perlu untuk baca, dipahami dan jika perlu dikembangkan.
Maraknya sastra islami merupakan angin segar bagi kaum muslim bagi penyebaran nilai-nilai islam di negeri ini. Lahirnya sastra ini mampu mengimbangi karya sekuler dan erotik yang membahayakan kaum muda. Lahirnya karya sastra islami perlu diberikan appresiasi yang tinggi mengingat peranannya yang begitu penting bagi keberlangsungan generasi muda kita. Umat islam perlu terus memotivasi dan mendorong para sastrawan muslim untuk berdakwah melalui karya sastra. Dengan demikian kita akan mampu memperjuangkan eksistensi ideologi islam menggunakan media yang sangat istimewa ini. Wallahua’alamu bishshawab.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi D., MERETAS RANAH Bahasa, Semiotika, dan Budaya, suntingan Husen, Ida, Sundari, dkk., Bentang, Yogyakarta, 2001.
Jabrohim, Kekuatan Sastra, Majalah Suara Muhammadiyah, n0.21/TH. Ke-89/1-15 November 2005.
Sedyawati, Edi, MERETAS RANAH Bahasa, Semiotika, dan Budaya, suntingan Husen, Ida, Sundari, dkk., Bentang, Yogyakarta, 2001.
Wellek, Renne, dkk., The theory of Literature, translated by Melani Budianta, Teori Kesusastraan, 1995, Gramedia, Jakarta

Monday, July 23, 2007

Teguhkan Hatimu


Oleh
Wajiran
(Dosen Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)


Kau terombang ambing oleh keadaan. Hidupmu tidak tenang. Kau ingin itu, kau ingin ini. semua ingin kau miliki. Ingin kau rasai. Padahal kau terbatas.

Keinginanmu memiliki semua menjadikan hatimu goyah. Kau tak teguh pendirian. Kadang kau percaya Tuhan tapi juga kau tidak kuasa dunia. Kau kini diperbudak dunia. Kau kini terlena dengan gemerlap dunia dan kau kini terbuai dunia. Hati mu gelap. Pikiranmu tertutup. Dan jiwamu merana.

Kau anggap semua orang adalah musuhmu. Kau anggap semua kawan adalah saingan dan semua kolega adalah penghalang. Kau tidak punya pegangan. Kau tidak punya perasaan. Yang ada dalam jiwamu adalah ketakutan dan ketakutan. Kau hidup tidak tenang.

Kau tidak pernah mencoba mencari kehidupan hakiki. Tapi hidupmu penuh dengan gemerlap duniawi.

Kini kau merana. Kau tak kuasa mengendalikan emosi. Kau rapuh. Kau hancur di dalam. Kau tidak punya kekuatan.

Tuhan telah meninggalkanmu. Tuhan telah murka padamu. Sedang engkau hanya menggerutu tidak punya bayangan akan apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dikerjakkan.

Bukalah matamu. Bukalah mata batinmu agar kau temukan bisikan Ilahi yang akan menuntunmu. Renungkan setiap kejadian. Dan resapi setiap keadaan. Hidup bukan hanya untuk mencari makan. Hidup bukan hanya untuk memperbanyak harta, mencari kedudukan dan juga bukan sekedar memenuhi kebutuhan shahwat duniawi.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Hidup adalah berakit kehulu.

Kau akan menemukan berbagai tantangan. Kau akan menemukan berbagai penghalang dan perintang. Jalanmu tidak akan mulus. Itulah kenyataan alam.
Kau tidak akan menemukan jalan yang selamanya datar. Kehidupanmu akan landai dan kadang menggunung.

Jangan pernah berhenti di satu sisi saja. Jangan pernah melihat dari satu sudut pandang. Kebahagiaan bukan segala-galanya sebagaimana sengsara juga bukan akhir segala-galanya. Dikala susah kau harus tabah. Dikala bahagia kau harus bersyukur. Semuanya akan silih berganti datang dan pergi. Dan kau harus jalani.

Mungkin kau akan bertanya mengapa semua bisa terjadi. Mungkin kau akan mengeluh kenapa semua terjadi. Dan mungkin kau akan mengupat kenapa itu terjadi. Semua sudah ada ketentuan semua sudah digariskan. Manusia hanya menjalani. Manusia hanya menerima sekaligus berusaha mencari jalan keluarnya.

Manusia tidak ada gunanya ketika hanya berfikir untuk diri pribadi. Tetapi harus berguna bagi setiap orang. Itulah yang harus kau perjuangan sepanjang hidupmu. Karena itu apapun yang kau kerjakan. Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh agar apa yang kau kerjakan bisa bermanfaat untuk orang. Kau akan mendapatkan sesuatu yang besar dalam hidupmu dengan berbuat demikian. Karena itu jangan sembarangan dengan kewajiban dan jangan malas melakukan.

Bercita-citalah demi kebaikan. Karena semua tidak akan bermakna tanpa demikian. Kau akan bahagia di hari kemudian ketika bertemu dengan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Harta bendamu tidak akan pernah kau bawa pulang menghadap Sang Maha Perkasa. Karena itu jangan sungkan memberikan kepada yang membutuhkan. Dan jangan sakit ketika kau kehilangan. Semua itu akan datang silih berganti sesuai dengan kebutuhan.

Bordoalan dan bersemangatlah karena semua ada padamu keputusan. Allah yang adil akan memberikan apa yang kau butuhkan. Dan ingat bukan yang kau inginkan.

Yogyakarta, 14 Juli 2007 00:59

Pasrahkan Dirimu Kepada-Nya


Oleh
Wajiran
(Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogykarta)


Hidupmu tidak akan pernah menemukan ketenangan. Jika dunia jadi ukuran. Jika kekayaan, jika kecantikan, jika kedudukan kau jadikan barometer kebahagiaan, maka kebahagiaan tidak akan datang padamu.
Kebahagiaan yang hakiki hanya pada Tuhan. Keikhlasan, ketulusan, dan kepasrahan akan melapangkan dadamu. Kau tidak akan merana karena kemiskinan. Kau tidak akan sengsara karena tidak dihargai ataupun tidak berkedudukan. Kau tidak akan pernah murka karena ketidakcantikan.
Kiblatmu yang saat ini masih pada meteri duniawi menjadikan hatimu sesak. Kau telah salah berkiblat. Kau telah salah memandang. Kau lihat mereka yang kaya dan berkedudukan. Kau anggap mereka segalanya. Kau anggap mereka bahagia dan lebih abadi dari mu. Padahal mereka juga kering sepertimu. Mereka juga gersang seperti hatimu.
Kekayaan dan kedudukan telah menjadikan mereka angkuh. Hati mereka tertutup dengan ketakutan mereka. Mereka selalu was-was akan kehilangan jabatan dan kekayaan. Hati mereka sombong karena itu hati mereka tertutup. Tertutup oleh cahaya kebenaran. Dan mereka pun berada dalam kegelisahan tiada tara. Mereka hampir binasa karenanya.
Jangan salah kiblat. Perbaikilah arah jalur hidupmu agar kau temukan tujuan hakiki dalam perjalananmu. Pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Serahkan segala persoalan dan tantangan kepada-Nya. Ia pasti memberikan sesuatu yang terbaik kepada kita semua.
Hanya satu yang perlu kamu ingat dalam hidupmu. Berjalanlah sebagaimana air yang mengalir. Berjalanlah sebagaimana alur yang telah ditentukan. Meskipun kamu harus berbelok, meliuk, dan terkadang mendaki. Semua harus kau jalani dengan keikhlasan. Dengan keridhoan menerima segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, kau akan rasakan kenikmatan yang tidak ada bandingan. Kau akan merasa hidup bagai disorga. Segala kebutuhan terpenuhi. Dan tidak ada lagi kesumpekan dalam batin mu.
Ketika kau rasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirimu berarti kau telah berbuat sesuatu yang salah. Carilah dan renungkanlah apa yang telah membuatmu sesak. Carilah apa yang telah mengganjal dalam hatimu. Jika kau bisa menemukan, maka persoalan hidupmu sudah pasti akan terselesaikan.
Jangan pernah kau bergantung selain kepada-Nya. Karena Ia tidak akan rela. Ia akan memberikan segalanya dan jangan khawatir dengan keputusan yang ada. Ia tidak pernah murka kecuali kau diciderai-Nya. Dan Ia akan memberikansegala yang ada demi makhluknya yang paling sempurna.
Manusia hanya hama. Setiap saat pasti binasa. Setiap saat pasti tiada. Hanya menunggu waktu. Hanya berharap sesuatu akan mendatangkan kepada-Nya. Yaitu kiyamat namanya. Kiamat adalah waktu yang paling dinantinya. Kiamat akan menjadi titik kulminasi segala urusan. Segala persoalan akan diberikan keputusan. Dan pada saat itulah kebenaran baru akan tampak. Siapa yang sehat dan siapa yang penjahat akan ditampakan-Nya.
Percaya dirilah bagi dirimu yang telah ridho pada-Nya. Ia tidak akan disiksa. Ia tidak akan dimurka. Tapi Ia akan menadapatkan surga. Surga jannatunna’im namanya.
Hanya orang-orang pilihan yang bisa mencapainya. Orang-orang pilihan yang akan mencapainya adalah mereka yang alim. Mereka yang dengan segala daya berusaha merebutnya. Melakukan yang terbaik atas kedudukannya. Ia sebagai hamba beribadah sebaik-baiknya. Ia sebagai kholifah memimpin dengan sempurna.
Memang banyak diantara mereka yang selamat ketika menjadi hamba sahaya. Ia tidak banyak berbuat dosa. Ia nrimo apa adanya. Tidak neko-neko. Berbeda halnya dengan kholifah pada umumnya. Setiap saat terjerembak dalam kubangan yang berbahaya. Ia menipu perkumpulannya. Ia memanipulasi datanya. Ia makan harta rakyatnya. Bahkan ia makan darah daging anak buahnya. Sungguh luar biasa godaan bagi pemimpin sekarang. Kalau tidak kuat keridhoaanya, ia akan binasa dengan jabatannya. Egonya akan semakin membabibuta. Ia akan sengsara selama-lamanya.
Peganganmu hanya satu, pasrah dan jangan serakah. Keserakahan akan membinasakanmu dengan berbagai jeratan. Keserakahan akan menjadikanmu tergerogoti dengan penyakit yang ada di dalam tubuhmu. Dan kau akan mati kutu. Mati tampa arti. Mati dalam hujatan dan makian. Kalau sudah demikian jangan harap ada jalan kembali. Semua sudah akan ditutup. Orang sudah tidak akan memandangmu. Semua akan mencacimu dan habislah riwayatmu.
Berdoalah agar Ia selalu menuntunmu. Berdoalah agar ia memberikan jalan terang. Jalan yang bisa selalu membawamu dalam titik penghabisan padang masyar yang sangat ditunggu. Semoga kau akan bersatu kembali dengan Yang Paling Hakiki. Wallahua’lamu bishshawab.

Yogyakarta, 10 Juli 2007 21:40

Monday, July 9, 2007

TETAPLAH DI JALANMU


Oleh
Wajiran
(Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Mungkin suatu saat kamu juga akan merasakan kehampaan dalam hidup mu. Kamu rasakan apa yang kau lakukan selama ini tidak bisa memberikan kepuasan dalam batinmu. Hal itu kamu lihat dari tanggapan orang-orang di sekelilingmu yang sering mencemoohmu. Mereka tidak menghargaimu dan bahkan menganggapmu tidak berguna sehingga kau diabaikan.
Sungguh suatu penderitaan yang sangat sulit dilupakan. Sungguh hal itu akan sangat menyakitkan hatimu. Tidurmu tidak akan pernah nyenyak. Makanmu tidak akan pernah enak dan senyummu tidak akan pernah merekah dengan leluasa. Kau tidak akan punya gaerah hidup.
Hidupmu akan terasa hampa jika kau rasakan tidak ada sesuatu yang bisa kamu berikan kepada sesama. Hidupmu akan mengambang jika kau tidak bisa mengenal mereka dengan segala aspek yang dimiliki. Bahkan kamu akan seperti mayat hidup yang tidak pernah bisa merasakan kedamaian dan ketenangan dalam batinmu. Meskipun kamu hidup kamu tidak akan dianggap apa-apa. Justru sebaliknya mereka akan menyingkir darimu.
Jika memang demikian kembalikanlah semua apa yang kamu rasakan kepada Sang Pencipta. Kembalikan semua kepada Sang Pemiliki segala hidup. Dan tenanglah dan bersabarlah atas apa yang kamu alami. Esok lusa atau bahkan besok pagi persoalan akan segera pergi dan berganti dengan kebahagiaan.
Persoalan hidup adalah hanya sebuah pergantian waktu. Karena kehidupan adalah sebuah perjalanan. Roda yang berputar pada poros bumi akan memberimu kesempatan menikmati penderitaan dan juga kebahagiaan. Keduanya akan tetap bergulir selama nafas kehidupanmu masih ada.
Karena itu jangan pernah khawatir dengan apa yang kamu hadapi saat ini. Besok pagi dan lusa mungkin akan silih bergati dengan sekarang dan seterusnya. Kau harus bangun setiap saat kau jatuh. Kau harus perbaiki setrategi yang kau gunakan untuk mendapatkan sesuatu. Karena itu perkuatlah dirimu dengan keyakinan akan sesuatu Yang Abadi di dalam dirimu. Karena keyakinan itulah yang akan memberimu kekuatan dan memberimu semangat dalam kehidupan.
Hidup mu tidak akan pernah berarti apa-apa jika kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau tidak akan pernah bermakna jika kau tidak pernah berfikir bagaimana kau bisa memberikan yang terbaik bukan hanya pada keluargamu, tetapi juga orang-orang yang ada di sekelilingmu. Dan jika perlu kau harus mampu memberikan sesuatu yang baik yang bermanfaat bagi seluruh umat yang ada di dunia itu. Karena itu hidupmu akan lebih bermakna.
Kau harus habiskan hari-harimu mencapainya. Kau harus mampu mewujudkan harapan dan cita-citamu. Kau harus mampu merubah kondisimu yang saat ini masih berada dalam ketidakberdayaan. Kau harus bangkit dari tidurmu yang panjang itu. Jangan pernah menyerah dengan keadaan apa pun kondisinya. Sekali lagi roda pasti berputar.
Jika saat ini kau masih bingung harus mulai dari mana untuk bangkit. Lakukanlah apa yang kau bisa saat ini. Sebesar apapun, jika kau lakukan dengan penuh keikhlasan dan kesunguhakan akan mendatangkan manfaat yang luar biasa. Jangan angap kerdil dirimu sendiri. Karena itu akan memperkerdil dirimu yang sesungguhnya. Terus saja berjalan dan berjalan. Kau akan menemukan dirimu dipersimpangan jalan hidupmu.
Kesungguhan di dalam menapaki hidup akan mendatangkan anugrah dari sesuatu yang tidak pernah kita tunggu. Karena semua sudah ada yang mengaturnya. Dan kita tinggal menerima sesuatu itu.
Kita akan mendapatkans sesuatu yang besar sesuai dengan harapan dan usaha kita. Bumi tidak akan pernah tumbuh beras yang bisa kita makan, kalau kita tidak menanamnya. Semua perlu diusahakan meskipun kita belum tahu apa dan kapan kita akan mendapatkanya.
Kau memang akan merasakan kepedihan dalam berakit kehulu. Karena memang semuanya sangat sulit. semuanya akan sangat menyakitkan. Tapi itulah sebuah perjuangan yang akan berbuah manis kelak dikemudian hari. Selamat berjuang. Wallahua’lamu bishshawab.
Yogyakarta, 09 Juli 2007 23:17

Kau bagaikan Kekasihku



(Tulisan untuk kolom di Balik Buku Jawa Pos)
Oleh
Wajiran
(Dosen Sastra di Universitas Ahmad Dahlan Yogykarta)
Setiap waktu aku tidak pernah bisa lepas darimu. Kau selalu menyertaiku kemanapun juga. Kau selalu ada di sisi ku disaat aku bahagia. Kau juga di sisi ku disaat aku lara. Kau menjagaku. Kau menghiburku. Dan kau mengajariku tentang kehidupan.
Aku tidak tahu akan jadi apa diriku, jika saat itu aku tidak mengenal mu. Sejak pertama kali ku kenal denganmu kau nampak biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa padamu. Bahkan aku sering menganggap mu tidak berguna.
Awal mulanya aku sering melihat mu sendirian. Tak seorangpun menghiraukan mu. Aku sendiri tak pernah menyapamu. Dan kau pun begitu. Aku sering mengabaikan mu karena tampak mu yang lusuh. Tampak mu yang tidak bersemangat sering membuat ku tidak bergairah menyentuhmu.
Aku tidak tahu, bagaimana awal mula ketertarikaku pada mu. Aku hanya ingat tempat itu. Di sebuah pesantren yang banyak memajangmu. Disitulah pertama kali kau menggugah hatiku. Kau menggelitik hatiku. Dimana-mana aku melihatmu. Dan semua orang duduk dan bercerita denganmu. Kau bagaikan maghnet di tempat itu.
Aku justru mengenal mu dari teman-teman ku yang sudah lama bersahabat dengan mu. Mereka, teman-temanku nampak selalu akrap dengan mu. Dan aku pun ingin tahu.
Setelah mengenalmu. Aku pun semakin akrap denganmu. Kini berpuluh tahun kau telah membiusku dengan godaan-godaan yang membisu. Kau telah buai aku dengan kata-kata mu yang indah. Pesan-pesan mu telah mempesona ku. Kau ajari aku berbagai hal yang sangat penting dalam hidupku.
Kau kini telah menjadi sahabat sejati ku. Kau lebih dari teman. Bahkan kau lebih dari kekasih ku. Kau telah berikan segalanya untuk ku.
Karena kesetiaan mu, aku pun semakin rindu pada mu. Kau selalu menjadi pendamping ku. Kau pegangan yang tidak akan pernah goyah. Aku percaya itu.
Kau akan menolong siapa saja yang membutuhkan mu. Kau akan membimbing siapa saja yang memerlukan bimbingan. Dan kau akan menuntun siapa saja yang buta terhadap kehidupan.
Aku semakin terbuai karena mu. Kau memang indah. Kau memang bijaksana. Dan kau telah membuatku hidup lebih hidup. Aku selalu berkhayal untuk memiliki semua, semua jenis mu.
Aku selalu membolak-balik setiap lembar mu. Kutelusuri setiap jengkal tubuhmu yang penuh makna. Ku cari dan ku cari setiap arti kata. Aku selalu berusaha memahami semua makna yang ada di dalam mu.
Sungguh luar biasa. Kau adalah teman yang tidak pernah menjemukan. Kau adalah teman yang paling setia. Kau selalu siap kapan saja. Kau selalu bersedia kapan saja. Kau bahkan tidak pernah mencap ku sebagai orang bodoh karena keterlambatan ku menelaah mu.
Kau kini telah membesarkan ku. Kau telah mendewasakan ku hingga seperti ini. Kau telah membuka mataku yang tadinya gelap. Kau telah menyinari hidupku dengan cahaya terang mu. Kau adalah lentera kehidupan ku.
Kau bukan hanya kekasihku. Kau adalah guru ku yang paling bijaksana. Kau tidak pernah menghujat. Kau tidak pernah memaki keluguanku. Kau tidak pernah pula membenciku ketika aku belum bisa menerima mu. Sebaliknya kau membimbing ku. Kau mengajariku untuk lebih bijaksana memandang kehidupan dengan prosesnya. Kau memberiku banyak pelajaran. Pelajaran akan makna kehidupan.
Mataku kini terbuka karena mu. Aku melihat keberagaman karena mu. Keberagaman adalah anugrah yang sangat luar biasa bagi sebuah keindahan. Keberagaman menjadikan kehidupan ku lebih bermakna. Keberagaman telah menjadikan hidup semakin sempurna. Dan semua itu ku dapatkan dari mu tercinta. Kau adalah kompas kehidupanku.
Jalan hidup ku jadi terang juga karena mu. Kau telah menyinari jalan hidup ku dengan kata-kata mu. Kau menyinari hidup ku dengan muatan yang ada dalam kata-kata mu. Kau memberi ku begitu banyak cahaya. Cahaya kehidupan yang tidak akan pernah redup.
Kau selalu menghibur ku dikala sedih. Kau menghibur dengan kata-kata penuh arti. Kau menggodaku, tertawai ku dengan gurauan yang khas penuh makna. Kau adalah pelipurlara yang sangat setia kepadaku.
Yogyakarta, 9 Juli 2007 20:20

Sunday, July 8, 2007

Kau yang Terombang-ambing


Oleh
Wajiran
(Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Jika kau saat ini terombang-ambing. Kau harus sadar bahwa badai akan segera berlalu. Air yang bergolak akan segera mereda. Dan pemandangan indah pun sudah akan segera menemuimu. Nikmatilah perjalananmu yang dramatis itu. Hiburlah dirimu. Hiburlah dirimu dengan harapan-harapan untuk bertemu Sang Kekasih yang akan menjadikan mu sebagai pahlawan.
Kamu terobang-ambing, karena kamu tidak tahu akan tujuan hakiki dari hidupmu. Kau tidak punya pegangan jadi kau selalu ragu. Kau tidak punya kompas kehidupan, sehingga kau sering tidak tahu arah. Kau selama ini buta dan terkadang tuli. Hanya nasip yang sering membuatmu masih ada seperti yang sekarang ini.
Bagaimanapun, bersyukurlah karena Ia memang Maha Pemurah dan Penyayang. Ia tidak pernah memaki hambanya yang sedang bingung. Ia tidak pernah menghujat hambanya yang sedang belajar berjalan menapaki kehidupan. Bahkan ia selalu menuntun, membimbing dan membisiki setiap hati yang mau belajar.
Kau perlu tahu bahwa keterombang-ambingan mu akibat kiblat mu yang salah. Kau selalu melihat kondisi di sekelilingmu yang keliru. Kau anggap harta kekayaan, kedudukan, dan kecantikan akan menjamin kebahagiaan hidupmu. Kau juga terlalu berorientasi pada hal itu.
Kau salah. Kau telah salah mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. Apa-apa yang kau anggap sebagai kebahagiaan atau perantara kebagiaan hanyalah fatamorgana. Semua itu hanya bagian kecil, kecil sekali dari makna hidupmu yang sebenarnya. Kekayaan tidak akan pernah menjamin hidupmu, kedudukan dan kecantikan juga begitu.
Kau harus hati-hati dengan semua itu. Karena kekayaan yang kau miliki jika kau tidak bisa membagi waktu akan menjadikan mu membatu dan membisu. Kau akan menjadi orang angkuh. Kau akan berpaling dari sesamamu yang lemah dan miskin. Kedudukan dan kecantikan juga begitu. Kau sering angkuh karena kau dianggap mulia. Kau sering angkuh karena menganggap dirimu segalanya. Dan ketika kedudukan itu pergi kau pun meratapi tiada tara. Kau akan tersiksa selama hidupmu.
Dalam hidup ini tidak ada yang pernah abadi. Semua hanya hiburan semata. Kesungguhan dalam hidup hanyalah satu; yaitu perjalanan mu mencari dan menuju yang Maha Abadi.
Kamu tidak perlu takut dengan siapa pun. Kamu tidak perlu ragu akan kemana. Dan kamu juga tidak usah khawatir akan apa yang akan kamu dapat. Waktu akan menunjukan kepadamu bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang akan memberimu sebuah kenyataan. Pengorbanan dan perjuanganmu saat ini akan digantikan dengan kenikmatan yang tiada tara.
Mungkin kamu akan ragu kenapa dia tidak menyapa. Kamu akan ragu, kenapa dia seolah tidak pernah menolong mu. Padahal, ia selalu bersamamu. Ia selalu mengiringi langkahmu. Ketika kau jatuh ia membangunkanmu. Ia tuntun dirimu yang masih sempoyongan setengah sadar dan ragu-ragu.
Ia bahkan sering tersenyum sipu melihatmu yang penuh semangat menuju-Nya. Ia malu-malu melihatmu yang tekun melakukan sesuatu yang Ia perintahkan. Ia bangga melihatmu demikian. Karena itu ketika kau melangkah satu Ia akan berlari menjumputmu.
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Ia akan bergulir dari suatu titik kepada titik yang lain. Dan perguliran itu akan membawamu pada suatu posisi dan kedudukan. Saat ini mungkin kau sedang berada di bawah. Saat ini kau ditimpa oleh teman-teman mu sendiri. Tetapi bersabarlah mungkin esok hari, mungkin lusa, roda akan segera bergulir. Dan jika sudah demikian maka terbukalah segala penghalang yang ada dalam dadamu. Kau akan meresakan kelegaan. Kau akan terbebas dari tekanan yang menghujam dalam jiwamu.
Pada saat inilah kesempatan bagimu untuk bangkit. Pada saat seperti inilah kau harus bangun dan berusaha menggunakan waktu luang dan lapangmu. Kau harus menolong sesama mu. Mereka yang ada di bawahmu sangat membutuhkan mu. Mereka juga rapuh seperti dirimu dulu. Kau akan merasakan nikmat yang tiada tara ketika kau bisa memberikan sesuatu yang berguna. Dengan begitu hidupmu akan lebih bermakna.
Hidupmu bukan diciptakan tampa tujuan. Perguliran waktu malam, daratan dan bukit yang bergunung merupakan gambaran kehidupan yang sebenarnya. Dan roda yang berputar adalah gambaran sistem kehidupan yang nyata. Tidak pernah ada yang abadi. Tidak pernah ada yang hakiki kecuali Tuhan yang Mahasa Perkasa dan Maha Mengetahui.
Dan kepada-Nyalah kamu harus kembali. Kamu harus mencari tahu segalanya dari apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Hanya dari situlah jalan hidupmu akan menjadi terarah. Jalan hidupmu yang berliku akan menjadi mudah. Disitulah ada peta kehidupan. Disitulah ada strategi kehidupan yang harus kau pelajari dan praktekan.
Selamat menikmati perjalanan hidup mu yang semakin bermakna. Kita akan berjumpa di suatu titik yang pernah dijanjikan oleh-Nya. Kita akan berbahagia dengan membagi kebahagiaan yang kita dapatkan di dunia ini. semoga! Wallahua’lam bishshawab.
Yogyakarta, 08 Juli 2007 01:05

PERJALANAN MU MENCARI KEBENARAN

Oleh
Wajiran
(Dosen di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan
Penasehat Akademik PPM Daar El Khairat Serang-Banten)

Perjalanan mu akan terus mengalir seiring waktu. Kau takkan kuasa mengendalikan perjalanan itu kecuali umurmu yang akan segera uzur. Kau akan terus berjalan dan berubah.
Perubahan adalah anugrah. Suatu saat kau akan berjalan bagaikan di toll kehidupan yang tampa penghalang. Tetapi di sisi lain kau pun akan menemukan penghalang di depanmu dan kau pun terpaksa berbelok, mencari selah, dan jika perlu mendaki. Kau harus mencari sesuatu agar kehidupanmu terus berjalan dan jika tidak demikianpun hidupmu akan berjalan bersama waktu.
Jika dirimu tidak mengikuti arus. Maka kau akan ditindas. Kau akan digilas oleh teman mu sendiri. Mereka memang kejam. Mereka memang tidak memandang bulu. Siapapun yang tidak mau bergerak dan hanya terdiam saja maka dia akan binasa dalam kelemahan.
Berjalanlah terus bersama angin dan bersama tetes air yang lain. Carilah celah hidupmu. Belajarlah mencari jati dirimu. Dan jangan pernah menjadi orang lain. Lalui perjalanan hidup dengan penuh optimis. Lalui semua dengan penuh harap. Harapanmu akan menjadikanmu tangguh. Dan optimismu akan melahirkan kekuatan dalam dirimu untuk selalu maju dan maju.
Kau tidak sendirian. Ketika kau temukan kegelapan carilah pertolongan. Carilah pegangan. Carilah sesuatu yang bisa menyelamatkan mu atau carilah sesuatu yang bisa menunda kematianmu. Sedetik waktu sangat bermanfaat bagimu untuk memperbaiki segala kesalahan. Satu titik pun kebaikan akan sangat berguna bagimu untuk menutup titik-titik dosa yang pernah kaulakukan.
Jangan siakan hidupmu dalam kemurungan akibat penghalang yang ada di depanmu. Kesedihanmu yang mendalam akan memperberat langkahmu. Dan kau pun akan menjadi lemah dan lunglai. Kau akan mati oleh perasaan dirimu sendiri. Jangan. Jangan sekali-kali kau melakukan itu.
Bangkitlah bersama anganmu. Bangkitlah bersama harapan. Dan bangkitlah bersama harapan-harapan yang menghujam dalam dirimu. Kau akan menemukan hidup hakiki ketika kau bisa memberikan arti dalam hidupmu.
Hidup adalah misi. Ia harus melahirkan sesuatu. Ia harus melahirkan sesuatu yang lebih besar. Sebesar yang kita mampu.
Hidup tidak akan pernah bermakna jika kita hanya bertumpu. Hidup tidak akan ada artinya jika kita hanya meminta. Hidup yang mulia adalah ketika kita bisa memberi. Memberikan sesuatu lebih baik dari pada menerima. Memberi harta kepada orang lain akan memberi kekuatan mereka yang sedang kelaparan. Memberi senyuman kepada mereka yang sedang ditimpa musibah akan meringankan beban mereka yang menggunung. Demikian juga memberi arahan, mengayomi mereka yang tertindas akan membesarkan hati mereka untuk tetap hidup. Akan memberikan kesempatan kepada mereka menemukan kembali jati diri mereka dan akhirnya mereka akan menemukan tujuan hidup sejati bersamamu.
Perbuatanmu akan di nilai oleh sang waktu. Kau akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kau pikir, yang kau anggap dan yang kau lakukan. Tidak akan pernah lepas satu detikpun semua perbuatanmu akan sangat berharga.
Maka dari itu jadilah dirimu. Jadilah dirimu lilin yang meskipun hancur tetapi ia tetap bisa memberikan pencerahan pada orang lain. Jadilah kau lilin yang meleh, tapi bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Jangan kau jadi air, kalau kau tidak bisa membantu mereka yang kahausan. Airmu akan mengeringkan tenggorokan. Kau tidak bisa menjadi juru selamat bagi mereka yang kehausan, tetapi justrus sebaliknya akan membunuh mereka dengan sifatmu yang tidak menyejukan.
Kau kini berdiri sendiri. Kau kini telah dewasa. Kau kini telah kuat. Merangkaklah terus dan belajarlah berjalan sediri. Dan jika kau telah mampu berdiri maka ajarilah mereka yang baru belajar brediri. Agar ia bisa menjadi temanmu dan suatu saat akan menuntunmu kembali, ketika kau sudah tua dan tidak berkekautan.
Berdoalah dan hanya berharaplah kepada sesuatu Yang Lebih Abadi. Harapanpun kepadanya akan menjadikan mu tulus memberi. Memberi kebaikan adalah kekuatan dan tabungan bagi kehidupan mu kelak.
Jangan pernah menunda waktu. Sewaktu masih punya kesempatan kerjakan yang terbaik untuk siapapun. Jangan pernah berharap kepada siapa kamu memberi dan apa yang akan kamu dapat setelah itu. Ibarat air berjalanlah terus tampa memandang penghalang di depanmu. Lalui saja dengan harapan kau akan mampu mencari celah dan syukur-syukur kau akan mampu melampai mereka.
Penghalang tidak akan pernah ada artinya apa-apa ketika kau bersabar. Jurtru sebaliknya kau akan mencapai kebahagiaan yang hakiki ketika kau bisa melampaui penghalang yang memberatkanmu. Kau akan menjadi dirimu yang sesungguhnya dengan terlepasnya dirimu dari kebinasaan dan keputus asaan.
Bangunlah bersama kesadaranmu. Bangkitlah. Dan carilah apa yang bisa kau lakukan saat ini. Jangan pernah menunggu hujan turun. Karena mungkin saja kemarau akan panjang dan belum tentu kamu akan menemukan musim hujan. Ambil langkah. Satukan kekuatan batinmu agar tetap istikomah dengan tujuan hidup mu yang hakiki; yaitu menjadi seorang pengabdi kepada Tuhanmu sekaligus sebagai pemimpin bagi umatmu.
Semua orang akan berdoa untukmu agar kau bisa menolong mereka dikemudian hari. Dan jika sudah begitu jadilah kau apa yang kau harapkan. Wallahua’lam bishshawab.
Yogyakarta, 7 Juli 2007 03:12

Tuesday, July 3, 2007

KEADILAN

Oleh
Wajiran
(Dosen di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan
Penasehat akademik PPM Daar El Khaerat Serang-Banten)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangalah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalh kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Maidah; 8)

Siapapun kita tentu sudah sering mendengar kata keadilan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata keadilan terutama dalam kontek politik dan pemerintahan. Namun demikian sebenarnya kata keadilan bukan hanya berkaitan dengan politik atau pemerintahan, tetapi juga bisa individu pada dirinya sendiri. Dalam kamus Oxford English Dictionary, keadilan berarti justice yaitu right and fair behavior or treatment. Bisa juga diartikan bahwa keadilan adalah sikap atau perlakuan yang benar dan wajar/seimbang. Dalam Islam konsep keadilan sering diartikan sebagai kemampuan untuk menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.
Kaitannya dengan diri sendiri, keadilan sering kita pahami sebagai bagian dari kemampuan diri kita untuk mengendalikan atau menempatkan diri kita sebagaimana semestinya. Kita sebagai hamba harus menyembah kepada Allah swt, demikian juga sebagai khalifah, sudah sepantasnya jika kita melakukan yang terbaik untuk semua yang ada di bumi ini. Hal yang paling esensial, keadilan dalam kontek diri sendiri adalah kemampuan diri kita mengendalikan hawa nafsu terhadap segala hal yang dilarang oleh Allah swt. Oleh karena itu dampak dari ketidakmampuan berlaku adil dalam kontek ini lebih kecil dan hanya berakibat pada individu itu sendiri.
Keadilan sosial bisa dipilah menjadi dua bagian, yaitu non- struktural maupun struktural. Keadilan dalam kontek non-struktural adalah kemampuan seseorang dalam menempatkan diri baik dalam hubungannya dengan keluarga, teman ataupun masyarakat sekeliling. Seorang individu harus menyesuaikan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kemampuan menyesuaikan diri ini merupakan bagian dari sikap adil seseorang terhadap diri sendiri dan sosialnya. Keadilan dalam kontek inilah yang sering menjadi dasar ketenangan dan kesejahteraan seseorang dalam kehidupan sosial.
Keadilan dalam kontek struktural erat kaitannya dengan komunitas formal atau yang sering disebut dengan organisasi. Organisasi adalah suatu bentuk komunitas yang resmi dan meliki tujuan khusus baik yang bersifat profit maupun yang bersifat suka rela (amal). Dalam kontek ini, keadilan akan sangat berpengaruh besar, karena selain berdampak pada individu juga akan berdampak pada masyarakat luas. Sikap adil akan sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan organisasi.
Keadilan dalam kontek organisasi selalu dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pimpinan organisasi. Pemimpin sebuah organisasi atau lembaga profit harus mampu bersikap adil terhadap segala komponen yang ada dalam organisasi itu. Pola kepemimpinan yang adil akan memberikan atmosfir yang kondusif sehingga tercipta hubungan yang harmonis antar sesama anggota organisasi. Kondisi ini sangat positif pada peningkatan kenyamanan, kesereusan, loyalitas dan tentunya kinerja seluruh komponen organisasi.
Oleh karena itu jalannya organisasi tidak pernah lepas dari pola kepemimpinan yang adil. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang mampu memberikan pelayanan yang prima kepada setiap bawahannya. Pemimpin yang adil akan memberikan spirit kepada seluruh bawahan untuk bergerak bersama dengan segala kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Bagaimana pemimpin mengakomodasi, memotivasi dan mengawasi bawahan adalah kunci utama kesuksesan pemimpin di dalam membawa gerbong lembaga yang sedang dipimpinnya. Oleh karena itu pemimpin yang baik harus mengetahui kebutuhan dan keinginan bawahan. Pemimpin harus sering instropeksi diri, apakah ia sudah benar-benar mampu menempatkan diri. Pemberian instruksi yang jelas, job descrition yang sesuai dengan kapasitas, dan tentu kebijakan yang adil akan memberikan motivasi kepada bawahan untuk melakukan yang terbaik bagi organisasi yang dipimpinnya.
Sebaliknya pemimpin yang tidak adil, tidak mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya atau tidak seimbang, akan menjadi pemimpin yang tidak efektif. Pimpin yang mengeluarkan kebijakan hanya berdasar pertimbangan like and dislike (suka dan tidak suka) akan menghadapi persoalan besar. Pola kepemimpinan seperti ini akan melahirkan kecemburuan sosial. Pihak yang merasa didholimi tidak akan ada semangat untuk menjalankan tugas. Walhasil tindakan ini akan merugikan lembaga yang dipimpinnya. Tugas dan instruksi yang diberikan tidak akan pernah diselesaikan dengan memuaskan. Bahkan bisa jadi personal yang diperlakukan tidak adil akan berusaha melakukan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
Mudah-mudahan kita adalah individu sekaligus pemimpin yang bisa berbuat adil, baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Sehingga kita akan mencapai tujuan hakiki hidup kita. Yaitu menjadi individu sekaligus pemimpin yang bermanfaat bagi setiap umat yang ada di sekeliling kita. Semoga. Wallahua’lam.

Monday, June 11, 2007

PERGURUAN TINGGI SWASTA DI YOGYAKARTA

PERGURUAN TINGGI SWASTA
DI YOGYAKARTA

Oleh
Wajiran
(Dosen dan Panitia PMB
di sebuah Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta)

Masa penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai saat ini. Disaat seperti inilah panitia PMB (Peneriamaan Mahasiswa Baru) di seluruh perguruan tinggi (PT) yang ada di yogyakarta berharap-harap cemas apakah mereka akan mendapatkan mahasiswa sebagaimana yang diharapkan. Terutama bagi perguruan tinggi swasta, yang keberlanjutannya sangat bergantung pada jumlah mahasiswanya. Semakin menurunnya jumlah calon mahasiswa luar daerah yang datang ke Yogyakarta menjadikan PT harus berkerja keras untuk meningkatkan jumlah mahasiswanya. Berbagai hal dilakukan untuk menjaring mahasiswa sebanyak-banyaknya. Pemasangan iklan di media massa baik di televisi, radio, koran, majalah maupun web site, merupakan strategi untuk menarik minat calon mahasiswa.
Banyaknya Jumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Yogyakarta ini, menjadikan persaingan antar perguruan tinggi cukup ketat. Ada sekitar 103 PTS yang setiap tahun berkompetisi memperebutkan calon mahasiswa. Akibat begitu ketatnya persaingan, terkadang PT melakukan segala cara untuk mendapatkan mahasiswa. Penawaran biaya kuliah yang murah, waktu yang bisa dipersingkat dan jaminan penempatan kerja merupakan jargon yang sering digunakan untuk menggaet calon mahasiswa. Bahkan diindikasikan adanya kecurangan dengan mekanisme perkuliahan tanpa kehadiran di kelas. Mahasiswa cukup membayar dan langsung bisa ujian. Tidak cukup sampai disitu ada juga yang melakukan praktek jual beli nilai.
Tindakan-tindakan seperti diatas tentu bisa memperburuk citra pendidikan di Yogyakarta. Seperti kasus tidak diakuinya ijazah yang dikeluarkan oleh salah satu PTS, di lembaga pemerintah maupun swasta mengindikasikan adanya penyimpangan PTS yang ada di kota ini. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap menurunnya kepercyaan masyarakat terhadap PTS di yogyakarta. Jika demikian maka habislah sudah citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan atau kota pelajar.
Jumlah mahasiswa asal daerah yang datang ke kota Yogyakarta sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Menurut data yang ada di Bank Indonesia menyebutkan bahwa setiap tahun mahasiswa dari luar daerah yang datang ke Yogyakarta minimal 35.000. Dari jumlah minimal ini uang belanja yang masuk ke daerah adalah 2,94 trilyun atau sekitar 17% dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), (Gratra, 29 Mei 2004). Dengan jumlah pemasukan yang dimikian besar, maka pemerintah semaksimal mungkin harus berusaha meningkatkan calon mahasiswa dari luar daerah.
Kenyataan yang mengkhawatirkan saat ini adalah jumlah calon mahasiswa yang datang ke kota ini mengalami penurunan yang sangat signifikan. Berkurangnya jumlah mahasiswa itu bisa dilihat dari semakin menurunya jumlah mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Bahkan sudah banyak PTS yang kekurangan mahasiswa. Dari sekitar 103 PTS yang ada di Yogyakarta mungkin tidak lebih dari 10 PT yang terpenuhi kwota mahasiswa barunya.
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah mahasiswa di Yogyakarta. Diantaranya adalah; berdirinya perguruan tinggi daerah, suksesnya program KB, meningkatnya angka kemiskinan termasuk mahalnya kebutuhan hidup.
Berdirinya perguruan tinggi daerah tentu akan mengurangi calon mahasiswa yang akan datang ke Yogyakarta. Selain biaya lebih murah faktor pengawasan orang tua pun lebih efektif. Menempuh pendidikan di daerah sendiri tidak membutuhkan banyak biaya. Pengeluaran bulanan dari biaya transportasi, pemondokan dan tentunya biaya kebutuhan sehari-hari terkurangi. Disamping itu juga orang tua bisa mengawasi aktivitas anaknya setiap saat. Dengan begitu dampak negatif dari pergaualan mudah untuk ditanggulangi.
Selain berdirinya pt daerah, kesuksesan program KB turut mempengaruhi jumlah calon mahasiswa yang datang ke kota ini. Program KB yang dicanangkan sejak era Orde Baru itu telah mengurangi jumlah kelahiran anak yang cukup signifikan. Meskipun hal ini tidak secara langsung berpengaruh pada pt tetapi penurunan jumlah anak juga mengakibatkan penururan jumlah calon mahasiswa.
Hal yang paling orgen terhadap penurunan jumlah mahasiswa adalah faktor ekonomi. Semakin sempitnya kesempatan kerja dan krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia tentu berakibat pada rendahnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu turut memberikan dampak pada kemampuan masyarakat dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Walhasil banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Menurut laporan Dikti Muhamadiyah beberapa bulan yang lalu, menunjukan bahwa tidak ada 30% dari seluruh penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi.
Ketiga faktor di atas merupakan faktor riil yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun satu lagi faktor yang turut mempengaruhi menurunnya minat calon mahasiswa luar daerah datang ke kota ini adalh faktor menjamur pergaulan bebas di kota ini. Kekhawatiran orang tua terhadap lingkungan Yogyakarta yang sudah tidak nyaman lagi nampaknya sangat logis. Merebaknya isu-isu sek bebas dan obat-obat terlarang menjadikan orang tua khawatir untuk menyekolahkan anak mereka di Yogyakarta.

Tanggungjawab siapa?
Mengingat begitu besarnya pengaruh jumlah mahasiswa pada kondisi ekonomi masyarakat, tanggungjawab mengenai antisipasi menurunya jumlah mahasiswa harusnya bukan hanya dilimpahkan pada perguruan tinggi. Pemerintah daerah yang ada di lingkungan DIY memiliki tanggungjawab besar dalam memasarkan kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Pemerintah Yogyakarta yang secara finansial kuat hendaknya membantu pt memasarkan keunikan-keunikan yang ada di Yogyakarta keseluruh daerah di Indonesia. Hal ini akan menguntungkan bukan hanya bagi keberlangsungan perguruan tinggi, tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri.
Kerjasama antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi sangat diperlukan. Kerjasama yang bisa dilakukan bisa dalam bidang promosi, penelitian maupun dalam pengembangan. Dengan mempromosikan seluruh kelebihan-kelebihan kota Yogyakarta ke daerah-daerah lain di seluruh Indonesia, secara langsung maupun tidak langsung akan memperbaiki citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Disamping itu jangan lupa pemerintah harus mengeliminir sedini mungkin masalah-masalah penyakit masyarakt; pergaulan bebas, narkoba, perjudian dan lain-lain yang saat ini justru merebak dilakukan oleh para mahasiswa.
Untuk mendukung dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Yogyakarta. Pemerintah perlu melakukan pembatasan berdirinya pts baru yang ada di kota ini. Dengan berjubelnya pts yang ada di kota ini, persaingan antar pts menjadi tidak sehat. Berbagai kecurangan sering kita dengar dilakukan oleh beberapa pts yang kekurangan mahasiswa. Tindakan menjual gelar, mempersingkat waktu kuliah dengan hanya membayar atau jual beli nilai sering kita dengar di kota yang nota bene disebut kota pendidikan ini.
Yang terakhir, nampaknya diperlukan adanya media komunikasi yang intensif antara perguruan tinggi dengan pemerintah kota maupun pemerintah daerah yang ada di seluruh Yogyakarta. Komunikasi ini dimaksudkan untuk menemukan beberapa peluang sekaligus kekurangan-kekurangan baik dari pt maupun pemerintah yang bisa mempengaruhi citra Yogyakarta sebagai kota pelajar. Mudah-mudahan dengan kerjasama ini akan meningkatkan jumlah mahasiswa luar daerah yang datang ke kota ini. Sehingga Yogyakarta akan tetap menjadi representasi Indonesia; Never Ending Asia. Semoga. Wallhua’lamu bishshawab.

KEKALAHAN KITA

Kekalahan Kita dalam Kesebelasan

Oleh
Wajiran
(Dosen dan Penasehat Akademik PPM Dar El Khairaat Serang-Banten)

Jika dirimu saat ini adalah kapten kesebelasan, maka yang perlu kamu ingat adalah bahwa pertandingan itu bukan milikmu sendiri. Jika kamu sudah berfikir demikian maka rasakanlah bahwa kesebelasan hidupmu akan terasa sempit, berat dan memilukan. Walhasil kesebelasan pun akan berakhir dengan kekalahanmu yang sangat menyakitkan.
Saat dirimu menggiring bola kesebelasan kamu harus sadar bahwa kamu tidak sendirian. Ada orang lain yang siap menerima operanmu. Ada banyak orang yang siap membantumu. Dan ada banyak orang yang siap mengawalmu sampai pada titik gawang lawan. Mereka yang ada di sekelilingmu harus kau komandoi, kau provokasi agar menerjang segala penghalang yang ada di depanmu. Tenaga mereka adalah tenagamu, semangat mereka adalah modalmu. Jika kamu mampu memanfaatkannya maka tidak akan ada catatan kekalahan dalam hidupmu.
Sebagai kapten kesebelasan, kamu tidak boleh angkuh. Tidak boleh menyombongkan diri. Perasaanmu paling bisa dan paling berkuasa akan membuatmu angkuh. Hal ini akan melukai tim kesebelasanmu. Dan hasilnya kesebelasanmu akan binasa sebelum maju.
Kamu harus menerima segala saran dan strategi yang diusulkan oleh kolegamu. Kau harus berbagi apapun itu. Bahkan sebelum berlaga kamu harus mendiskusikan segala taktik dan setrategi yang akan digunakan untuk menundukan lawan. Kebersamaan dan kekompakan akan menjadi kekuatan utama hidupmu. Hidup ini tidak akan ada artinya apa-apa jika tidak bisa menjaga kebersamaan. Dengan bersama kamu akan menjadi kuat. Dengan bersama kamu tidak akan ketakutan. Dan dengan bersama kamu tidak akan pernah kebingungan.
Berbeda halnya kalau kamu memikul kesebelasan ini sendirian. Semua akan merasa berat. Beban terasa menumpuk dan semua tentu akan sangat membosankan. Kau akan terkubur bersama dengan kesombonganmu. Kau akan binasa bersama dengan keangkuhannmu dan kaupun tidak akan mendapatkan apa-apa. Hanya kekecewaan-kekecewaan yang kau rasakan dan semua itu akan membinasakanmu dalam kesendirian.
Hidup adalah kesebelasan yang tidak akan pernah berakhir. Sampai akhir hayat ini, pertandingan akan terus bergulir. Komitmen dan ketulusan untuk selalu besama harus selalu dipertahankan. Karena hal itu yang akan mempersatukan dan memperkuat barisan kesebelasan mu. Ketulusan untuk memberikan operan, ketulusan untuk menerima beban yang akan dioperkan, akan sangat menentukan keberlangsungan pertandingan.
Kekalahan mu selama ini sering disebabkan oleh diri mu sendiri. Kamu sering merasa kuat. Kamu sering merasa berjaya karena mampu menjadi pemimpin. Tetapi saat kamu mempin, kamu tidak bisa memperhatikan kekuatan yang ada di sekelilingmu. Kamu hanya fokus pada dirimu sendiri. Dan kamu pun sering mencapai tujuan kesebelasan sendirian. Engkaupun menggiring bola kehidupan sendirian. Lalu kau dalam kelelahan. Kau dalam kebingungan. Tidak ada lagi celah di depanmu. Sedang di kanan kirimu dan belakangmu, kau biarkan dan kau anggap tidak mampu menerima bola operanmu. Lalu kamu pun ambil keputusan dengan menendang bola itu keras-keras tampa arah. Dan kamu pun dalam keputus asaan.
Saat kamu jadi pemimpin kesebelasan kekuatan mu bukan hanya ada pada diri mu sendiri. Tetapi juka seluruh anggota kesebelasan yang ada di pihak mu. Kamu harus jeli dan benar-benar tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatur strategi. Seluruh anggota kesebelasan harus ditempatkan sesuai dengan kemampuan mereka. Dan tentu sebelum beralaga setiap anggota kesebelasan harus sudah punya kesepakatan taktik yang akan digunakan untuk melumpuhkan lawan. Jika di tengah permainan ada yang cidera maka tugas pemimpin adalah mengobati atau mencari pertolongan bagi anggotanya.
Kata-kata pemimpin adalah petuah penuh kekuatan. Kata-kata pemimpin adalah tombak bagi anggota kesebelasan. Ia harus mampu mengobarkan semangat. Semangat kebersamaan. Semangat kesatuan dan semangat untuk menggempur lawan. Karena itu kata-kata yang memberi motivasi adalah energy yang paling dibutuhkan dalam kesebelasan. Jangan pernah berikan kata-kata keputusasaan dan ungkapan ketidakpercayaan. Karena jika demikian, maka binasalah diri mu bersama tim kesebelasanmu.
Jangan pernah membunuh semangat teman kesebelasanmu. Karena ia adalah darah daging kesebelasanmu sendiri. Jika kau mampu mengobarkan semangatnya berarti kemengangan sudah ada di depan mu. Tetapi jika kau telah membunuh semangatnya maka kekalahan pun sudah menantimu. Kau tidak mungkin menghilangkannya. Karena kehilangan semangat salah satu dari teman kesebelasannmu ibarat kehilangan salah satu anggota badanmu sendiri. Yang berarti akan mengurangi gerakmu dalam mencapai kemenangan. Wallhua’lamu bishshawab.

Thursday, June 7, 2007

Runtuhnya Peradaban Kita


Runtuhnya Peradaban Kita



Wajiran
(Dosen di sebuah Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta)

Pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi dengan serta merta telah merubah segala aspek kehidupan manusia. Hal ini ditandai dengan semakin rumitnya persoalan hidup. Baik kerumitan dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun gaya hidup manusia yang semakin jauh dari ajaran agama. Lahirnya pergaualan bebas, meningkatnya budaya kumpul kebo yang berakibat banyaknya kelahiran anak di luar nikah, dan meningkatnya budaya koruptif merupakan dampak dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi.
Pertumbuhan penduduk telah mempersulit gerak manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Persaingan antar individu semakin ketat, menjadikan manusia sering melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya pencurian, perampokan, korupsi, manipulasi, intimidasi dan berbagai kejahatan sosial terjadi dimana-mana. Dalam situasi seperti ini sangat sulit untuk mengendalikan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Nilai-nilai luhur bangsa luntur seiring dengan perkembangan budaya hedonisme, materialisme dan konsumerisme.
Karena semakin kompleknya persoalan hidup, kejahatan sosial bukan hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Meraka yang secara ekonomi terpenuhi masih merasa kehausan dengan kedudukan dan kehormatan. Manusia telah kehilangan jati dirinya. Seperti apa yang dikatakan Eric Fromm (1996), manusia telah beralih menjadi mesin yang tidak berfikir dan tidak berperasaan. Segala aktivitas manusia telah digantikan oleh mesin yang serba cepat. Manusia semakin malas melakukan hal-hal fisik, tetapi mereka ingin menikmati kemudahan dan kemewahan hidup. Akibatnya bagi mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan, tidak ada jalan lain kecuali melakukan tindakan-tindakan amoral demi tercapainya tujuan itu.
Kecintaan manusia pada barang-barang mewah dan kedudukan tidak lain disebabkan oleh pergaulan sosial yang melingkupinya. Semakin banyak barang yang dimiliki manusia merasa lebih berharga dibanding dengan orang lain. Seperti apa yang dikatakan Eric From (2001), bahwa manusia sering bersifat syirik terhadap barang-barang ciptaannya sendiri. Manusia akan merasa lebih terhormat dan memiliki harga diri setelah memiliki barang-barang mewah. Harta, kendaraan dan kedudukan merupakan barang yang dianggap bisa mengangkat harga diri seseorang di masyarakat.
Akibat dari sifat ingin diakui terjadilah persinggungan di dalam kehidupan sosial. Hubungan antara orang kaya dan orang miskin tidak harmonis. Mereka berlomba-lomba mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Demi untuk memenuhi kebutuhan ruh mereka yang gersang.
Perbedaan kepemilikan dan tingkat pendidikan telah membentuk sekat-sekat sosial yang tidak baik. Komunikasi tidak lancar sehingga kontrol sosial pun menjadi lemah. Hal inilah yang menyebabkan rusaknya moral bangsa. Lahirnya pergaulan bebas, perselingkuhan, merupakan akibat lemahnya kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat.
Identitas dan jati diri suatu bangsa telah luntur bersamaan dengan egoisme materialistik yang menjangkiti manusia moderen. Nilai luhur bangsa yang mengagungkan kejujuran, kesabaran dan ketulusan telah hilang digantikan oleh budaya angkuh dan individualistis yang diajarkan oleh masyarakat barat.. Ajaran-ajaran materialisme yang tersebar melalui media massa atau teknologi informasi telah meracuni manusia di segala level. Mulai dari anak-anak, kaum muda bahkan tidak ketiggalan kaum tua. Mereka sangat gandrung dengan hal-hal yang berasal dari barat. Padahal tidak semua yang datang dari barat lebih maju daripada apa yang sudah ada di negeri kita sendiri. Hal ini merupakan bukti bahwa kita sampai saat ini tidak memiliki identitas. Kita tidak memiliki kepribadian dan harga diri. Harga diri kita sebatas barang yang kita miliki. Setelah barang-barang yang kita miliki rusak, maka hilanglah harga diri kita.
Tidak ada lagi yang mampu mempertahankan identitas diri. Lembaga pendidikan, agama, suku dan adat seolah tidak berkutik. Lembaga-lembaga ini dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Lebih ironisnya lagi lembaga sekolah justru mendukung ajaran yang bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian masyarakat kita. Nilai-nilai materialistis, gaya hidup hedonis sering menjangkiti manusia-manusia berpendidikan. Lembaga sekolah hanya digunakan sebagai media mencari setatus sosial. Sama halnya dengan barang mewah yang dimiliki, status pendidikan dianggap bisa mengangkat harkat dan martabat mereka. Padahal semakin tinggi pendidikan, orang semakin angkuh dan merasa paling berharga.
Agama juga tidak berdaya dengan inviltrasi kebudayaan Barat. Agama hanya sekedar lipstik bagi manusia moderen. Agama tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengatur kehidupan seorang individu. Setelah mengenal dunia glamour, manusia pun semakin jauh tersesat. Tidak ketinggalan agamawan atau yang sering disebut kiai pun sering ikut-ikutan. mereka yang pada awalnya khonaah dengan kehidupan sederhana, suka menolong dan menjadi obat kegelisahan umat. Telah menggadaikan harga diridengan sifatnya yang gila hormat dan materialistis. Mereka tidak lagi menjadi simbul keteduhan bagi masyarakat.

Kemana lagi kita akan kembali?
Kondisi sosio budaya masyarakat yang sudah demikian rusak menjadikan manusia dalam kebingungan. Kepada siapa lagi mereka menyampaikan keluhan? Kemana mereka akan pergi? Terjadilah kekosongan dalam diri manusia moderen. Mereka semakin kehausan. Tidak ada lagi tempat teduh untuk bersandar. Tidak ada lagi tempat untuk meneguk air kedamaian bagi mereka. Kiai, ustad, sudah tidak lagi dipercaya.
Kekuasaan, kekayaan, dan kedudukan yang mereka banggakan tidak bisa memberikan ketenangan dalam diri mereka. Sebaliknya dengan kedudukan dan kekayaan menjadikan mereka semakin kehausan. Hidup mereka tidak pernah tenang. Mereka berada dalam ketakutan kehilangan kedudukan dan kekayaan. Padahal segala cara telah dilakukannya untuk mendapatkan kebahagiaan semu itu. Tindakan menghujat, mencacimaki, menyuap, membunuh karakter bahkan membunuh jiwa sering dilakukan demi tercapainya tujuan mereka.
Tindakan mendholimi sesama sudah bukan rahasia lagi. Tidak ada lagi ikatan seagama, sesuku, bahkan ikatan darah pun tidak bisa membendung hasrat mereka untuk menindas. Tidak jarang sesama muslim, hanya karena perpedaan kepentingan dan cara pandang duniawi saling mencaci maki. Agama hanya dianggap perahu cadangan ketika nanti darurat. Agama hanya sebagai penghias kehidupan mereka. Simbul-simbul keagamaan mereka gunakan hanya untuk mencari kehormatan manusia, tetapi dibalik itu semua tindakan tindakan terlarang sering mereka lakukan.
Sudah saatnyalah lembaga-lembaga agama serperti NU, Al-Irsyad dan Muhammadiyah merubah pola pikir masyarakat yang sangat memprihatinkan itu. Organisasi keislaman memiliki tanggungjawab yang besar dalam mendidik umat kepada jalan yang benar. Lembaga dakwah harus mampu menawarkan nilai-nilai spiritual yang dibutuhkan oleh umat. yaitu nilai yang bisa memberikan kesejukan dan kedamaian bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan. Semakin populernya para paranormal, dukun dan kiai-kiai “gembleng” merupakan akibat dari lemahnya masyarakat terhadap agamawan sekarang ini. Wallahua’lamu bish shawab.

Wednesday, May 30, 2007

BIODATA



Muhammad Wajiran, S.S.

Mantan pengurus DPD IMM DIY ini dilahirkan di Lampung, 18 Desember 1979. Mantan aktivis yang hobi membaca ini, sedang memfokuskan diri pada dunia pendidikan, baik pada pengajaran dan penelitian. Selain menjadi staf pengajar (Dosen) di Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta, saat ini sedang memfokuskan pada penelitian permasalahan-permasalahan sosial. Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Bandar Agung dan SLTP N 2 Banjit, semuanya di Lampung Utara. Kemudian setelah menginjak tingkat SLTA hijrah ke Jogjakarta pada 1995 di SMK Muhammadiya 2 Playen-Gunungkidul. Setamatnya dari SLTA langsung melanjutkan pendidikannya di Universitas Ahmad Dahlan tahun 1998. Menamatkan pendidikannya pada Mei 2003, setelah itu pada awal September di tahun yang sama diangkat sebagai dosen di almamaternya.


Selain pernah mendudukan Ketua Bidang Sain dan Budaya DPD IMM DIY, Penulis buku ini memiliki banyak pengalaman organisasi. Tahun 2000, menjabat sebagai Ketua Umum KORKOM IMM UAD. 1999, menjadi Ketua I IMM Komisariat PSH UAD. 1997, pernah membidani Bidang Keagamaan di Ikatan Remaja Muhammadiyah, ranting SMK Muh. 2 Playen. Semasa aktif diorganisasi penulis juga menjalani berbagai pengalaman yang menunjang karir masa depannya; selain kuliah, dan aktif di organisasi juga bekerja sebagai Tentor. Suatu masih dalam menempuh pendidikan, penulis juga pernah menjadi Tentor Bahasa Inggris di SMILE GROUP kurang lebih satu setengah tahun. Disinilah bakat dan ketertarikannya di dunia pendidikan mulai muncul.


Aktivis jebolan Pondok Pesantren Ar-Ruhamaa’ Playen-Gunungkidul ini mempunyai hobi membaca, berorganisasi dan menulis. Pekerjaan tetapnya membaca dan menulis, selain mengajar yang memang sudah menjadi kewajiban sebagai dosen Perguruan Tinggi. Harapan yang selalu membara pada dirinya, ialah ingin mengajak orang lain mengenali dirinya sendri.




Karya yang telah terlahir dari pemikirannya banyak berkenaan dengan pemikiran dan perkembangan moral manusia dalam masyarakat. Diantara karya-karya yang pernah dan yang akan diterbitkan diantaranya; Psychological Disorder and Literary Work, (Litraya,2004). The Psychological Approach of Emily Brontee’s Point of View Toward Sadomasochism as Reflected in Wuthering Heihgts, (Thesis, 2003) dan Intelegent and Madness (Proses), Konsep Politik George Bernard Shaw dalam Man and Superman (LITRAYA, 2005), dan juga Psikososial (Telaah Psikoanalisis terhadap Agama, Filsafat dan Kebudayaan). Selain menulis buku, penulis juga banyak menyampaikan gagasannya ceramah-ceramah, ataupun diskusi-diskusi ilmiah seperti di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), remaja masjid dan lain sebagainya.Bertempat tinggal di Griya Piyungan Asri B 34 Piyungan Kec. Jogajakarta HP. 081 328 079 082 e-mail: http://us.f332.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=wazier79@yahoo.com. Kantor Fakultas Sastra, Universitas Ahmad Dahlan, Jl. Pramuka No. 42 Jogajakarta 55161 Telp. 0274-371120